🚐 Beli Merch
🚐
#MakassarMerantau

Vincent: Di Atas Langit Masih Ada Langit

✍️ Redaksi Supet
📅 16 Maret 2026
⏱️ 3 menit baca
Foto: @makassarmerantau

"Pa'entengi siri'nu" — tegakkan harga dirimu.

Ini cerita Vincent, yang sudah 16 tahun merantau di Jakarta-Tangerang, Indonesia. Ia meninggalkan kota daeng demi mengejar mimpinya berkuliah di bidang Desain Komunikasi Visual, yang kini membawanya ke kehidupan sebagai pengembang bisnis rumah produksi iklan di Jakarta.

Mengejar Pendidikan

"Saya ingat, setelah lulus SMA pada tahun 2007, saya ingin melanjutkan pendidikan di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), tapi sayangnya waktu itu belum ada universitas yang menaungi jurusan tersebut dengan akreditasi yang baik.

Jadi, setelah menjalani perkuliahan selama beberapa semester di fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, saya memutuskan untuk merantau ke Jakarta."

Kabar terbaru saya...

"Saat ini tinggal di Bintaro dan fokus ngembangin bisnis sendiri, Rumah Produksi Video Iklan (Commercial Production House). Selain itu saya juga punya aktivitas lain yang lebih personal seperti olahraga lari, yang bisa dibilang sudah lumayan dalam lah kecebur ke hobi ini."

Kehidupan di Perantauan

"Awal-awal merantau tepatnya 4-5 tahun pertama itu paling terasa culture shocknya, dan itu menjadi tantangan terbesar.

Mulai dari perbedaan cara berpikir orang-orangnya, sampai mencari celah biar bisa blend-in dan lancar networking dengan orang-orang baru di perantauan.

Salah satu yang paling saya ingat juga itu saat awal bekerja di salah satu creative agency. Industri kreatif (dulu) itu benar-benar kejam.

Sebagai perantau dengan zero experience, saya menelan banyak makian dengan lapang dada, karena ya memang rasanya serba salah dan saya pun sadar kalau saya bisa dengan sangat mudah digantikan."

Di atas langit masih ada langit

"Saya datang ke Jakarta itu membawa prinsip pa'entengi siri'nu.

Setelah berkenalan dengan ratusan orang dengan latar dan cerita yang berbeda-beda, saya pelan-pelan belajar untuk lebih menjaga tutur dan perilaku. Menjaga harga diri itu tidak berarti harus sombong, atau kita analogikan mi dengan bahasa tongkrongannya anak-anak Makassar seperti, 'sante lalo mko anu, anggapako anjo'."

Dibalik Perjalanan Merantau

"Setelah sekian lama tinggal di luar Makassar, rasanya selalu ada kangen dadakannya mau ke Makassar, tapi di satu sisi, makin ke sini tuh makin sulit nyari selipan waktu buat bisa pulang minimal 1 minggu.

Dulu 2012-2015 tuh saya bisa pulang ke Makassar pas weekend aja 2-3 hari terus balik lagi ke Jakarta, cuman itupun dulu masih dapat sponsor hahahaha.

Tapi untungnya berkat teknologi, setiap malam saya bisa telfonan, dan kebetulan orang tua lumayan sering berkunjung ke sini."

Yang dirindukan

"Kalo orang lain mungkin jawabnya pasti makanan, dan ya saya rasa itu juga pasti saya rindukan. Tapi menurut saya pribadi, yang bikin paling kangen dengan Makassar itu pengalaman Leparokenya (Lewat Pantai Perasaan Oke), alias di Makassar bisa semudah itu liat laut.

Kalau kembali bahas makanan, yang paling saya tempatkan paling pertama itu Songkolo karena di Jakarta so far, belum ada yang jualan Songkolo tanpa harus pre-order. Selain itu ya ada Coto Ranggong, Nyuknyang (yang belum saya temukan rasa khasnya di Jakarta), Sop Lidah Lamuru, Soto Betawi versi Makassar, dan masih banyak lagi pastinya."

Perasaan rindu dan pulang?

"Pulang buat saya adalah sebuah situasi. Ya, situasi tanpa rasa khawatir tentang apapun tapi penuh dengan rasa aman. Walaupun saya belum punya rencana atau bahkan kepikiran untuk pulang kembali ke Makassar, bagi saya situasi di mana saya bisa menetap dengan nyaman dan aman itu sudah menggambarkan arti Pulang.

Namun jika suatu saat saya akan kembali, saya mau ikut menyumbangkan effort buat ngembangin industri audio-visual production di Makassar dengan standar yang proper atau at least setara di Jakarta.

Dan menurut saya itu semua bisa terlaksana dengan baik jika idenya matang, niatnya tulus tanpa embel-embel mau nyaleg...

(eh canda nyaleg hehe~)"

Teruntuk kamu, perantau masa depan

"Intinya tinggalkan attitude 'pa'bambangang na tolo' kalau mau merantau. Jangan di bawa ke tempat lain karena di perantauan itu lapisan langitnya unlimited, bukan soal bertengkar tapi dalam hal apapun lah.

Kalau ketemu orang baru, siapa pun itu, ada baiknya mendengar lebih banyak dulu."

Akhir kata ku...

"Walaupun sudah pindah KTP, Makassar dan seisinya akan selalu jadi rumah buat saya sampai kapan pun.

Kebanggaan saya sebagai orang Makassar masih sangat besar!"

Ini adalah seri kedelapan dari #MakassarMerantau.

Pertama tayang sebagai carousel di Instagram @makassarmerantau. Teks dirapikan untuk web dengan bantuan AI dan ditinjau sebelum tayang.

📸

Lihat versi carousel di Instagram

Konten ini pertama kali tayang di @makassarmerantau — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.

Lihat di Instagram →