🚐 Beli Merch
🚐
Berita Terkini

Tiap Hari, Hampir 130 Ribu Orang Masuk Makassar. Siapa Mereka?

✍️ Redaksi Supet
📅 21 Oktober 2026
📍 Sulawesi Selatan
⏱️ 4 menit baca

Antara pukul enam dan delapan pagi, dua dari tiga komuter di kawasan Mamminasata sudah meninggalkan rumah. Tujuan mereka sama: Makassar. Sorenya, arus itu berbalik arah.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat ada 129.905 orang dari Kabupaten Gowa, Maros, dan Takalar yang setiap hari beraktivitas utama di Makassar. Mereka bukan wisatawan dan bukan perantau. Mereka disebut komuter.

BPS mengartikan komuter sebagai orang yang rutin pergi-pulang di hari yang sama melewati batas kabupaten/kota, entah untuk bekerja atau untuk sekolah, kuliah, dan kursus. Di seluruh kawasan Mamminasata, jumlahnya 181.692 orang, atau 6,6 persen penduduk berusia 5 tahun ke atas.

  • 76,9 persen komuter bepergian untuk bekerja, sisanya untuk belajar.
  • 76,6 persen berusia 15 sampai 44 tahun.
  • 70,9 persen laki-laki dan 29,1 persen perempuan.

Rumah bergeser ke pinggiran, kerja tetap di kota

Menurut BPS, pola ini berkaitan dengan suburbanisasi. Kota inti makin padat, sehingga banyak orang memilih tinggal di pinggiran, tetapi aktivitas utamanya tetap di kota.

Gambarannya terlihat dari persentase rumah tangga yang punya anggota komuter pada 2023: Gowa 30,4 persen, Maros 24,8 persen, Takalar 17,9 persen, dan Kota Makassar 5,9 persen. Di Gowa, hampir satu dari tiga rumah tangga punya anggota keluarga yang berkomuter. Di Makassar, sekitar satu dari 17.

Soal perumahan juga berperan. Sebanyak 20,1 persen komuter pendatang di Gowa pindah ke sana karena alasan tempat tinggal. Di Maros angkanya 24,2 persen, sedangkan di Makassar hanya 3,2 persen.

Dari 129.905 komuter yang masuk ke Makassar, 84.180 orang berasal dari Gowa, 33.204 dari Maros, dan 12.521 dari Takalar. Warga Makassar yang keluar kota untuk beraktivitas berjumlah 28.130 orang. Artinya, yang masuk 4,6 kali lebih banyak daripada yang keluar. Dari setiap 100 komuter asal tiga kabupaten itu, 85 beraktivitas di Makassar.

Sehari di jalan bersama komuter

BPS juga memotret rutinitas mereka dari berangkat sampai tiba kembali di rumah.

  • 66,5 persen berangkat pukul 06.00–07.59. Sebanyak 7,6 persen bahkan sudah berangkat sebelum pukul 06.00.
  • 42,8 persen menempuh perjalanan 30–59 menit. Sebanyak 16,7 persen lainnya butuh lebih dari satu jam.
  • 95,4 persen memakai motor atau mobil pribadi. Pengguna angkutan umum hanya 3,3 persen.
  • 69,8 persen pernah terjebak macet parah, dan 52,1 persen pernah stres karena perjalanan.
  • 42,1 persen tiba di rumah pukul 17.00–18.59, sedangkan 14,8 persen baru sampai setelah pukul 20.00.

Koridor Gowa–Makassar di peta nasional

Data Survei Komuter Mamminasata 2023 mencakup pekerja dan pelajar. Hasil Sakernas 2025 berbeda cakupannya karena hanya menghitung pekerja. Berikut temuan dari Sakernas 2025 dan analisis BPS:

  • Koridor Gowa ke Makassar dilalui 77,4 ribu pekerja komuter. Itu menjadikannya arus komuter terbesar keenam di Indonesia, dan satu-satunya dari Kawasan Timur Indonesia yang masuk 20 besar.
  • Arus neto pekerja di Makassar surplus 114,4 ribu orang, sedangkan Gowa minus 79,6 ribu.
  • Persentase neto Gowa (minus 17,6 persen) terendah kedua di Indonesia setelah Kota Depok.
  • Satu dari lima pekerja di Makassar (19,4 persen) adalah komuter dari luar kota.
  • Di Gowa, 21,5 persen pekerja yang tinggal di sana adalah komuter. Angkanya setara dengan Kota Tangerang (21,7 persen).

Di tingkat provinsi, Sulsel punya 189,2 ribu pekerja komuter (4,0 persen). Pekerja migran risen, yakni yang lima tahun lalu tinggal di kabupaten/kota berbeda, tercatat 134,9 ribu (2,8 persen). Pekerja yang memilih pulang-pergi 1,4 kali lebih banyak daripada yang pindah domisili.

Secara nasional, Sakernas 2025 mencatat 7,7 juta pekerja komuter dan 3,4 juta pekerja migran risen. Angka migran risen itu merupakan persentase terendah dalam 10 tahun terakhir.

Teori Zelinsky dan pekerjaan rumah yang dicatat BPS

BPS merujuk Hipotesis Transisi Mobilitas dari geografer Wilbur Zelinsky (1971). Teori ini membagi pola pergerakan penduduk menjadi lima fase seiring modernisasi wilayah: masyarakat tradisional, transisi awal dengan urbanisasi besar-besaran, transisi akhir saat mobilitas ulang-alik mulai naik, masyarakat maju dengan komuter yang makin intens, dan fase super maju ketika teknologi komunikasi menggantikan sebagian perjalanan.

Menurut BPS, Mamminasata sedang bergerak dari Fase III menuju Fase IV. Fase V belum tercapai karena hanya 1,1 persen pekerja komuter yang bekerja dari rumah atau dari lokasi lain (WFH/WFA).

BPS menyebut tiga hal yang perlu diperhatikan:

  • Angkutan umum yang terhubung. Sebanyak 67,0 persen rumah tangga komuter harus berjalan lebih dari 1 kilometer ke halte angkutan massal terdekat.
  • Pusat kegiatan baru di wilayah penyangga, agar lapangan kerja lebih menyebar.
  • Permukiman layak di pinggiran, lengkap dengan layanan dasar dan akses transportasi ke pusat kerja.

Jadi, kalau pagi nanti kamu terjebak di antrean kendaraan menuju Makassar, ada sekitar 130 ribu orang yang menempuh rute serupa dari Gowa, Maros, dan Takalar.

Sumber: Postingan Instagram @bpssulsel (BPS Provinsi Sulawesi Selatan), 20 Oktober 2026.

Konten terkait

Artikel ini disusun redaksi Supet dengan bantuan AI dari catatan redaksi, lalu ditinjau sebelum tayang. Menemukan kesalahan? Kabari kami.