🚐 Beli Merch
🚐
Lokal Vibes

Tallu Cappa', Tiga Ujung Bekal Orang Makassar Saat Merantau

✍️ Redaksi Supet
📅 24 Oktober 2026
📍 Sulawesi Selatan
⏱️ 3 menit baca

Kalau ada keluarga yang melepas anaknya merantau, biasanya yang dibicarakan bekal: uang, pakaian, alamat tujuan. Dalam tradisi Makassar, ada satu bekal lagi yang tidak masuk tas, yaitu tallu cappa'.

Secara harfiah, tallu cappa' berarti "tiga ujung". Pesan leluhur (pappasang to riolo) menyebutnya begini: "Nia tallu cappa' bokonna to lampaiyya, iyamintu: Cappa' lila, Cappa' laso, Cappa' badi'." Artinya, ada tiga ujung yang harus dibawa orang yang bepergian: ujung lidah, ujung kemaluan, dan ujung badik.

Sekilas terdengar vulgar dan keras. Namun, falsafah ini dimaknai sebagai tiga "alat" untuk bertahan hidup, terutama di negeri orang. Ia dikenal luas dalam budaya Bugis-Makassar dan berjalan beriringan dengan siri' na pacce, yakni rasa malu dan kesetiakawanan.

Tiga ujung, tiga makna

Ujung lidah adalah ucapan. Dalam pemaknaan yang berkembang, ini mencakup kecerdasan emosional hingga spiritual, sehingga seseorang bisa membedakan yang baik dari yang buruk. Salah satu kajian menyebut falsafah ini mengajarkan bahwa ucapan adalah cerminan martabat.

Ujung kemaluan berkaitan dengan pernikahan dan keturunan. Dalam pesan untuk perantau, artinya mencari jodoh dari kalangan bangsawan atau orang berpengaruh. Harapannya, kedudukan dan status sosial ikut naik di tengah masyarakat.

Ujung badik berkaitan dengan harkat dan martabat. Bila menghadapi permusuhan, badik menjadi senjata terakhir, dengan harga diri sebagai taruhan dan syarat bahwa pemiliknya berada di pihak yang benar.

Urutan yang tidak boleh terbalik

Ketiganya bukan dipakai serentak. Masing-masing punya giliran sesuai keadaan.

Bila persoalan bisa selesai lewat diplomasi, "sorongi lilanu", majukan lidahmu. Menangkan hati orang dengan tutur yang santun dan lembut.

Kalau cara itu gagal, "sorongi lasonu". Dalam tafsir yang dikutip, artinya menikahi putri raja, ketua adat, atau orang berpengaruh di tanah rantau.

Jika masih buntu, barulah "sorongi badi'nu", yakni menghadapi lewat perkelahian atau pertempuran. Badik ada di urutan paling akhir.

Pesan leluhur itu juga memuat peringatan: untung atau rugi seseorang bergantung pada cara ia memperlakukan tiga ujung tersebut.

Badik, "diri kedua" laki-laki Makassar

Lidah dan kemaluan dibawa sejak lahir. Badik berbeda: ia dimiliki laki-laki Makassar ketika sudah baligh, dan disebut sebagai diri kedua. Ada pesan yang dikenal luas, "Teyai bura'ne punna tena ammallaki badik", bukan laki-laki jika tidak memiliki badik. Badik itu dibawa serta, atau minimal tersimpan di rumah.

Bagi orang Makassar, merantau berarti menaklukkan, beradaptasi, atau setidaknya bertahan tanpa direndahkan. Tallu cappa' menjadi tahapan dalam proses itu, dan dipakai di banyak bidang: sosial, politik, hingga ekonomi.

Beberapa hal yang jarang dibicarakan

  • Pesan leluhur itu sering disampaikan orang tua saat melepas anak ke perantauan, sebagai bekal yang "disematkan di hati".
  • Salah satu versi pesannya berbunyi: "Oe ana'… a'ngu'rangiko, nia' antu tallu cappa nuerang", yang berarti, duhai anak, ingatlah ada tiga ujung yang harus kau bawa.
  • Dr Nurhayati, peneliti La Galigo, berpendapat keluwesan orang Makassar membuatnya cepat beradaptasi dan membaur dengan masyarakat setempat.
  • Dalam adat Bugis-Makassar, harga diri disebut sebagai harga mati yang dibayar meski dengan nyawa.
  • Falsafah ini juga dibahas dalam diskusi ilmiah di Terengganu, Malaysia, dengan sebutan "Empat Cappa" dalam judul makalahnya.

Dari kampung ke tanah rantau

Orang Makassar dikenal sebagai perantau sekaligus pelaut ulung. Tallu cappa' ikut menjelaskan mengapa mereka dikenal mudah menyesuaikan diri tetapi tetap menjaga martabat.

Jadi, kalau suatu hari kamu mendengar orang tua di Makassar berpesan kepada anaknya yang hendak berangkat, "jaga tiga ujungmu", kini jelas apa yang dimaksud: lidah yang santun, jodoh yang membawa kehormatan, dan badik yang tetap di sarung selama masih ada jalan lain.

Sumber

Artikel ini disusun redaksi Supet dengan bantuan AI dari sumber yang dicantumkan, lalu ditinjau sebelum tayang. Menemukan kesalahan? Kabari kami.