🚐 Beli Merch
🚐
#CinikiMakassar

Sejarah Masjid Al-Markaz Al-Islami

✍️ Redaksi Supet
📅 3 Agustus 2026
⏱️ 2 menit baca
Foto: @supet.id

Ada banyak tempat di Makassar yang kita lewati hampir setiap hari. Sudah akrab di mata, tapi belum tentu kita tahu cerita di baliknya. Lewat #CinikiMakassar, kita mengulik tempat, budaya, kuliner, tokoh, hingga kisah-kisah menarik tentang Makassar yang mungkin selama ini luput dari perhatian. Untuk edisi perdana, kita mulai dari salah satu ikon kota: Masjid Al-Markaz Al-Islami.

Semua orang kenal dan tahu kalau Masjid Al-Markaz itu salah satu masjid terbesar di wilayah Indonesia Timur. Tempat salat, kajian, hingga berbagai kegiatan keislaman. Tapi tidak semua orang tahu sejarahnya.

Jadi begini, sebelum berdiri kokoh seperti sekarang, Masjid Al-Markaz Al-Islami lahir dari gagasan Jenderal (Purn.) Muhammad Jusuf pada tahun 1989. Saat itu, ketika ia dipercaya menjadi Amirul Hajj, ia mengajak sejumlah tokoh nasional untuk membangun sebuah masjid di Makassar yang bukan sekadar menjadi tempat salat, tapi juga bisa menjadi pusat pengembangan peradaban Islam di Indonesia Timur.

Dikutip dari Kabar Makassar, setelah pensiun dari Panglima TNI dan BPK, Jenderal Muhammad Jusuf rutin menunaikan ibadah haji. Dalam salah satu perjalanannya, beliau terpukau melihat masjid di tepi pantai Jeddah dan menara Masjid Nabawi di Madinah. Beliau bahkan meminta Jusuf Kalla memotret masjid tersebut serta memperkirakan tinggi menara Masjid Nabawi sebagai referensi pembangunan di Makassar.

Awalnya ia ingin membangun masjid ini di kawasan pantai. Namun Jusuf Kalla menilai lokasi tersebut kurang ideal untuk masjid sebesar itu. Akhirnya dipilihlah bekas Kampus Unhas di Baraya melalui proses tukar guling lahan (ruislag) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Nah, di atas lahan itulah Masjid Al-Markaz Al-Islami kemudian mulai dibangun pada tahun 1994 dengan dana awal sekitar Rp11 miliar.

Asal-muasal penamaan masjid

Sebelum resmi, nama yang semula direncanakan adalah Islamic Center. Namun, nama Al-Markaz Al-Islami yang terpilih karena artinya sendiri lebih melekat dengan tujuan Jenderal Muhammad Jusuf membangun masjid ini, yakni berarti "pusat peradaban Islam".

Masjid ini kemudian dirancang oleh Ir. Ahmad Nu'man dengan perpaduan arsitektur Timur Tengah dan unsur khas Sulawesi Selatan, yang mampu menampung sekitar 10.000 jamaah.

Jadi begitulah cerita di balik berdirinya Masjid Al-Markaz Al-Islami yang berdiri megah hingga hari ini.

Alhamdulillah, masjid ini tidak hanya menjadi salah satu ikon Kota Makassar, tetapi juga sebuah warisan yang lahir dari sebuah cita-cita agar Makassar memiliki peradaban Islam yang terus hidup, berkembang, dan bermanfaat bagi masyarakat di Indonesia Timur.

Kini, masjid yang dikenal sebagai Masjid Al-Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf ini juga menjadi pengingat bahwa sebuah bangunan bisa lahir dari mimpi besar, gotong royong, dan keinginan untuk meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.

Selanjutnya kita kulik sejarah apa ya?

Pertama tayang di Instagram @ciniki.makassar. Teks dirapikan untuk web dengan bantuan AI dan ditinjau sebelum tayang.

📸

Lihat versi carousel di Instagram

Konten ini pertama kali tayang di @ciniki.makassar — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.

Lihat di Instagram →