🚐 Beli Merch
🚐
Berita Terkini

Sampah Makassar, Siapa yang Menanggung Dampaknya?

✍️ Redaksi Supet
📅 1 Oktober 2026
⏱️ 3 menit baca
Foto: @supet.id

Sampah Makassar berkurang, tapi masalahnya belum selesai di situ.

Selama puluhan tahun, sampah dari berbagai penjuru Makassar berakhir di TPA Tamangapa. Di sekitarnya, ada warga yang hidup berdampingan dengan dampaknya dan ada pula yang menggantungkan hidup dari sampah itu.

Hidup paling dekat dengan TPA

Rosma dan keluarganya tinggal di Bintang Lima, kawasan yang nyaris tanpa batas dengan TPA Tamangapa.

Pada November 2025, ketiga anaknya terkena DBD. Sejumlah warga sekitar juga mengalami DBD dan diare saat musim hujan. Epidemiolog yang diwawancarai Jaring.id menilai kondisi TPA dan cuaca saat itu sama-sama menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Sampah yang menampung air hujan dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.

Bukan cuma bau dan gunungan sampah

Maret 2026, Jaring.id menemukan rumah warga di dekat TPA sempat tergenang air lindi. Air sumurnya dilaporkan hitam dan berbau.

Uji DLH Makassar terhadap dua sampel air di sekitar TPA juga menemukan E. coli dan Total Coliform melampaui baku mutu. Menurut ahli sanitasi Unhas yang diwawancarai Jaring.id, lindi berisiko meresap ke tanah ketika penanganan dan drainasenya tidak memadai.

Persoalannya bukan baru kemarin

TPA Tamangapa beroperasi sejak 1993 dan sejak awal menggunakan sistem open dumping.

Jaring.id juga mencatat dokumen AMDAL tidak tersedia sejak awal operasional. Kajian lingkungan baru tersedia pada 2020 dalam bentuk DELH. Di sisi lain, Rosma menyebut keluarganya sudah tinggal di kawasan tersebut sejak 1980-an—keterangan serupa juga disampaikan empat warga lainnya.

Jadi, persoalannya tidak sesederhana siapa yang datang lebih dulu. Ada perkembangan TPA dan permukiman yang perlu dilihat bersama.

Sekarang, sistemnya mulai diubah

Sejak 1 Agustus 2026, Pemerintah Kota Makassar (Pemkot Makassar) menghentikan praktik open dumping. TPA Tamangapa hanya menerima sampah residu dan warga didorong memilah dari rumah. Sampah yang masuk ke TPA pun turun dari sekitar 800–1.000 ton per hari menjadi 200–300 ton per hari.

Pemkot juga mulai menutup sampah residu dengan tanah serta membenahi kolam lindi dan drainase. Namun menurut ahli yang diwawancarai Jaring.id, TPA Tamangapa masih dalam proses menuju controlled landfill, belum sanitary landfill.

Saat sampah berkurang, penghasilan ikut turun

Sedikitnya 224 pemulung dari 130 keluarga disebut terancam kehilangan mata pencaharian karena sampah bernilai ekonomi yang masuk ke TPA semakin sedikit. Salah satunya Ana, yang sudah sekitar 15 tahun menjadi pemulung.

Dulu penghasilannya sekitar Rp100 ribu per hari. Kini maksimal sekitar Rp35 ribu per hari.

Sampah ke TPA turun. Lalu, yang lain ke mana?

Pada 2025, Makassar menghasilkan sekitar 1.064 ton sampah per hari. Sementara menurut perhitungan dalam liputan Jaring.id, 13 TPS3R di Makassar rata-rata hanya mampu mengolah sekitar 13 ton/hari.

Jaring.id juga mencatat laporan sampah dibuang ke kanal, drainase, lahan kosong hingga dibakar setelah sistem baru berjalan. Artinya, mengurangi sampah yang masuk TPA perlu dibarengi kapasitas pengolahan yang memadai di luar TPA.

Membenahi sampah bukan cuma memindahkan masalah

Perubahan dari open dumping memang diperlukan. Tapi pengelolaan sampah perlu berjalan utuh:

  • Kurangi dari sumber
  • Pilah
  • Olah lewat TPS3R dan bank sampah
  • Angkut residu
  • TPA yang lebih aman

Dan di sepanjang prosesnya, warga sekitar serta mereka yang menggantungkan hidup dari sampah tetap perlu diperhatikan.

Sampah tetap perlu diolah, dari sumber sampai menjadi residu yang benar-benar aman untuk dibuang. Karena pertanyaannya bukan cuma:

“Ke mana sampah kita pergi?”

Tapi juga:

“Siapa yang menanggung dampaknya?”

Sumber: Jaring.id — Menanggung Derita Buruknya Tata Kelola Sampah di Makassar, Arya Nur Prianugraha, 18 September 2026.

Pertama tayang di Instagram @supet.id. Teks dirapikan untuk web dengan bantuan AI dan ditinjau sebelum tayang.

📸

Lihat versi carousel di Instagram

Konten ini pertama kali tayang di @supet.id — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.

Lihat di Instagram →