🚐 Beli Merch
🚐
Berita Terkini

Ritual Andingingi Masyarakat Adat Kajang di Bulukumba untuk Mendinginkan Bumi

✍️ Redaksi Supet
📅 8 Oktober 2026
📍 Sulawesi Selatan
⏱️ 3 menit baca
Foto: Cekricek.id (sumber)

Masyarakat adat Ammatoa Kajang di Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, memiliki ritual Andingingi untuk "mendinginkan" bumi dan hutan. Menurut naskah jurnal ilmiah, ritual besar itu digelar setiap Desember hingga Januari.

Tahapan ritual dijelaskan Nurhaedah, Ketua Perempuan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Pengurus Harian Komunitas Adat Kajang, saat ditemui peneliti pada 2022.

"Ritual Andingingi bertujuan untuk mendinginkan bumi sekaligus menjaga seluruh isi alam semesta agar seluruh manusia selamat," kata Nurhaedah.

Keterangannya dicatat Ramadhani Arumningtyas, Andi Alimuddin Unde, dan Jeanny Maria Fatimah dalam artikel "Komunikasi Simbolik Ritual Andingingi: Pesan Masyarakat Adat Ammatoa Kajang tentang Pentingnya Menjaga Hutan". Artikel itu terbit di jurnal Perspektif Komunikasi volume 7 nomor 1 tahun 2023.

Ramadhani berasal dari Dinas Komunikasi Informatika dan Statistika Kabupaten Jeneponto. Dua penulis lainnya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.

Komunitas dipimpin Ammatoa

Komunitas Kajang dipimpin Ammatoa, sebutan untuk bapak yang dituakan. Warganya memegang prinsip tallassa kamase-masea atau hidup sederhana. Prinsip itu tampak dari rumah-rumah yang seragam bentuk, ukuran, arah, dan bahannya.

Para peneliti menulis, keseragaman itu dimaksudkan agar warga tidak saling bersaing dan iri. Sikap semacam itu dapat berujung pada pengambilan hasil hutan secara berlebihan.

Sembilan tahap, tujuh di antaranya dicatat

Nurhaedah menyebut ritual ini terdiri atas sembilan tahap. Tujuh tahap pertama dalam urutannya adalah sebagai berikut.

  • Arunding (musyawarah). Ammatoa tidak menetapkan hari dan tanggal ritual tanpa musyawarah. Ia mengundang 25 pemangku adat ke rumahnya, bersama para Galla, Karaeng, dan pemangku adat tingkat dusun. Yang dibahas adalah cara menjaga agar ritual terus digelar tiap tahun dan agar seluruh warga adat dapat hadir. Setelah waktu disepakati, pemangku adat mengumumkannya. Menurut peneliti, setiap rumpun keluarga sudah memahami apa yang harus dibawa.
  • Membuat barung-barung. Rumah-rumahan beratap rumbia ini didirikan di hutan Parasangang Ilau, wilayah Rambang Seppang. Sesajen dan makanan disimpan di sana, dan warga berkumpul di tempat yang sama. Perempuan membawa songkolo dan ayam dari rumah untuk dimakan bersama. Pemangku adat membakar kemenyan di bawah batu besar dan pohon besar yang dianggap keramat.
  • Appalenteng ere. Air diambil dari sumur-sumur tua di wilayah adat, dipindahkan ke hutan, lalu disimpan dalam kendi di tengah barung-barung. Air didiamkan semalam mulai pukul 00.00. Para peneliti mencatat air sebagai lambang ketenangan jiwa dan pikiran sekaligus sumber kehidupan manusia.
  • Minum tuak bersama. Setiap laki-laki yang hadir membawa tuak dari rumah dan meminumnya dari bambu dan tempurung kelapa sebagai tanda syukur. Tuak, air nira yang disadap, juga menjadi sesajen dalam wadah bambu yang diletakkan di bawah pohon dan batu besar. Naskah itu mencatat tuak selalu disajikan kepada tamu pada pesta pernikahan orang Kajang.
  • A'bebbese. Air suci dikebaskan ke empat arah mata angin dan kepada warga yang hadir. Alatnya seikat dedaunan dari 40 jenis tanaman, disebut daun kayu patang puluh. Daun padi, sirih, dan lainnya menandai ketergantungan manusia pada padi, tumbuhan, dan air. Percikan itu dimaksudkan mengusir hal buruk dari wilayah adat dan mengisi kembali tanah dengan air. Tahap ini menjadi satu-satunya ritual yang difoto dalam naskah, dengan sumber foto Ibrahim Hasan.
  • Pengolesan bacca. Warga mendatangi Ammatoa dan permaisurinya satu per satu. Keduanya mengoleskan bacca, ramuan bedak basah, pada dahi dan leher. Olesan di dahi bermakna agar manusia berpikir dengan kepala dingin. Olesan di leher bermakna agar manusia selalu berkata benar.
  • Salama'. Makanan dan sesajen didoakan agar masyarakat diberi panen melimpah, karena sebagian besar orang Kajang bertani.

Menurut naskah, sesajen pada tahap salama' terdiri atas 12 macam yang disusun dalam konre-konre. Isinya beras merah, putih, dan kuning, daun sirih, ketan, pisang, kelapa, ketupat, ayam, udang, telur, serta ketan berlilin kemiri.

Seorang sanro, dukun dalam struktur adat Kajang, mengelilingi sesajen sambil membawa kemenyan yang dibakar. Ramadhani dan rekan-rekannya mencatat arti setiap bahan sesajen tersebut.

Sumber

Foto: Cekricek.id (sumber)

Artikel ini disusun redaksi Supet dengan bantuan AI dari sumber yang dicantumkan, lalu ditinjau sebelum tayang. Menemukan kesalahan? Kabari kami.