🚐 Beli Merch
🚐
#MakassarMerantau

Potret Musik, Perjalanan, dan Impianku...

✍️ Redaksi Supet
📅 10 Agustus 2025
⏱️ 5 menit baca
Foto: @makassarmerantau

“Banyaklah kepo tentang banyak hal yang positif.”

Inilah cerita bagaimana Raka Syahreza menggapai mimpinya lewat perantauan. Ia sudah 9 tahun merantau.

Berawal dari sekadar mimpi, Raka kini berhasil menjadi seorang Music Photographer profesional yang telah bekerja sama dengan berbagai musisi spektakuler seperti The Adams, Bernadya, Perunggu, Pamungkas, hingga musisi mancanegara. Semua itu ia raih berkat pengalaman merantaunya.

Merantau mengajarkannya bahwa satu-satunya cara untuk berkembang adalah dengan berani membuka diri terhadap berbagai situasi baru, bertemu orang-orang baru, dan menghadapi tantangan baru. Pintu demi pintu untuk meraih impian terbuka berkat keberaniannya, yang selalu diiringi dengan rasa syukur tanpa henti.

Akar dari Mimpiku...

“Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 3 SMA Negeri 1 Makassar. Nah, Smansa itu terkenal dengan Pensinya yang selalu mendatangkan berbagai musisi dari luar Makassar, jadi saat itu saya menjadi panitia LO yang bertugas berkomunikasi dengan para tamu musisi. Dari situlah saya mulai tertarik dan mengulik tentang musik khususnya musik Indie, sehingga saya bermimpi untuk bekerja di bidang ini suatu saat nanti.”

“Meski belum secara langsung menekuni mimpi itu, saya terus mengambil langkah kecil untuk terus update dengan dunia musik seperti mengoleksi album fisik atau piringan hitam (vinyl), hingga menonton konser band-band favorit saya. Bahkan saat itu saya juga aktif menjual piringan hitam yang lama setiap kali band favorit saya mengeluarkan rilisan baru.”

“Saat berkuliah saya sempat diajak untuk mengikuti kontes fotografi di UKM oleh salah seorang teman yang memang backgroundnya fotografi.

Berangkat dari situ, saya memenangkan juara ketiga, dan dengan pencapaian itu saya menemukan bakat fotografi yang bisa saya kembangkan lagi.”

“Saya sangat ingat, waktu tahun 2019, seseorang yang rupanya seorang manager dari Sore ze Band memesan koleksi piringan hitam saya secara COD (cash on delivery). Pertemuan yang tak saya sangka itu ternyata membuka peluang untuk mengerjakan project foto panggung pertama saya.”

Merantau memang membuka Jalan

“Pintu demi pintu terbuka, dari satu project artwork, saya semakin memperluas relasi dan berhasil bekerja sama dengan banyak musisi seperti The Adams, Perunggu, Pamungkas, dan masih banyak lagi.

Dengan meraih mimpi menjadi seorang Music Photographer profesional turut memberi saya kesempatan untuk melangkah lebih jauh keluar negeri seperti Jepang, USA, Eropa, dan berbagai negara lain untuk bertemu dengan musisi-musisi hebat, bekerja sama dengan mereka untuk membuat karya yang berkesan.”

Berbicara tentang merantau...

“Pertama kali menetap di Jakarta, saya kesulitan dalam berkomunikasi karena logat Makassar sudah begitu melekat.

Selain itu, dulunya saya sangat gengsi untuk bersosialisasi dan tidak terlalu ingin membuka diri.

Tapi, merantau di Jakarta memberi saya pelajaran bahwa kalau saya ingin berkembang, kalau saya memang ingin meraih mimpi saya, saya harus menurunkan gengsi dan belajar untuk berani terbuka untuk belajar.”

Karena pada dasarnya, berani berelasi dan berkomunikasi mengantarkan saya sampai di titik ini sekarang...

Kerinduan yang tak terbendung

“Sejak tahun 2019, saya sekeluarga benar-benar menetap di Jakarta setelah rumah nenek saya di jalan Gunung Batu Putih Makassar dijual, yang artinya saya tidak punya tempat tujuan lagi jika ingin kembali ke Makassar. Rasanya sedih sekali karena semakin sulit untuk melepas rindu.

Namun, setiap kali saya punya kesempatan untuk sekadar berlibur di Makassar barang sebentar saja, saya selalu excited apalagi ketika saya bisa kembali menikmati makanan khas kota daeng ini seperti Palbas Serigala, Coto Gagak, Pisang Ijo, dan Pallubasa Limboto yang sering saya makan dulu sepulang sekolah.”

Makassar itu Spesial

Meski saya menemukan jalan di perantauan, tak bisa saya pungkiri bahwa Makassar begitu spesial bagi saya.

Ketika saya tahu bahwa teman kontrakan saya juga orang Makassar, saya begitu senang karena setidaknya saya bisa berbagi logat dengannya, membuat saya seperti tinggal di Makassar lagi. Tak hanya itu, ada suatu momen di mana saya membuat karya yang mengekspresikan betapa rindunya saya dengan Makassar...

Jadi ada waktu di mana selama satu tahun saya tidak mengunjungi Makassar sama sekali dan itu titik yang bikin saya rindu dan ingin sekali pulang ke Makassar, tapi sekali lagi saya tidak punya tujuan.

Pada akhir tahun 2023, saya bertemu dengan seorang rapper bernama Matter Mos. Ia bercerita bahwa ia baru saja menyelesaikan sebuah lagu baru berjudul “Pulang”.

Potret dan Lagu yang mengartikan apa itu Pulang

Setelah mendengar lagu “Pulang” oleh Matter Mos, perasaan saya benar-benar campur aduk karena setiap lantunan liriknya sangat mewakili perasaan rindu terhadap Makassar. Ini penggalan lirik yang sangat menyentuh bagi saya:

Tuang gelas ketiga
Malam di teras rumah
Sembari bertanya di kaca
"Apa kabarmu kawan?"
masih betah gamau pulang
(gak mau pulang)

Dari situ, saya menghubungi beliau kembali dan berkata bahwa saya ingin membuatkan artwork, karena saya merasa timingnya sangat pas dengan situasi saya saat itu, dan lagu ini turut memberi saya arti pulang...

Pulang itu...

“Rahmatullah adalah arti pulang yang sesungguhnya.

Selama kita bisa menjadi orang yang bermanfaat dan berbuat baik kepada sama, itulah pulang. Kemanapun kita pergi, kita harus belajar untuk selalu bersyukur dan ikhlas karena pada akhirnya kita pasti akan kembali pulang ke Rahmatullah.

Pandangan saya ini sejujurnya berubah ketika saya merantau, terlebih saat saya menyaksikan teman-teman dan sahabat saya berpulang duluan. Pulang itu bukan lagi tentang ke suatu tempat, tapi bagaimana kita bisa berbuat baik dan bermanfaat untuk banyak orang.

Kemanapun kita bisa bepergian sekarang, pasti akan tetap pulang kepada yang di atas. Yang terpenting ialah di mana ketika kita pulang untuk yang terakhir kalinya, akan banyak yang mengantar kita.

Meski begitu, ia tetap merindukan kota daeng, kota di mana ia dilahirkan dan bertumbuh. Kerinduan itu menjadi momen berharga yang memberi arti “pulang” ketika ia berkarya untuk Matter Mos lewat lagu berjudul Pulang.

Kalau pulang ke Makassar?

Jika berbicara tentang Makassar, maka bagi saya pulang bukan lagi menetap di Makassar, tapi sebagai perhentian terakhir saya kelak saat pensiun, untuk membangun dunia kreatif yang lebih baik untuk kota Makassar, khususnya fotografi karena saya tahu bahwa orang-orang Makassar itu kreatif!

Sebagai seorang Fulltime Music Photographer, saya berusaha mengubah perspektif bahwa Music Photography itu lebih dari sekadar foto panggung, tapi bisa juga foto artwork dan foto profile musisi itu sendiri.

Untuk kamu yang baru ingin Merantau...

Jangan takut untuk memulai sesuatu dan perbanyak bersyukur dan ikhlas dalam segalanya. Memang wajar jika kita takut saat ingin memulai dan belajar sesuatu yang baru, tapi percayalah bahwa lebih baik gagal daripada tidak mencoba sama sekali. Kalau perlu, beranikan dirimu untuk nekat and just go for it!

“Ilmu pengetahuan itu mengarahkanmu, kebodohan itu menyesatkanmu, tapi ketidaktahuanmu itu membebaskanmu”.

Ini adalah seri keempat dari #MakassarMerantau.

Pertama tayang sebagai carousel di Instagram @makassarmerantau. Teks dirapikan untuk web dengan bantuan AI dan ditinjau sebelum tayang.

📸

Lihat versi carousel di Instagram

Konten ini pertama kali tayang di @makassarmerantau — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.

Lihat di Instagram →