🚐 Beli Merch
🚐
Lokal Vibes

Penuh Cerita, Ini Warkop Tertua di Makassar!

✍️ Redaksi Supet
📅 5 Desember 2025
⏱️ 3 menit baca
Foto: @supet.id

Bagi mereka yang sudah melewati banyak musim kehidupan, secangkir kopi lebih dari sekadar minuman, tapi ada cerita, nostalgia, dan rasa yang tinggal dengan pekat. Di Makassar, ada lima warung kopi yang sudah ada dari dulu sampai sekarang, dan menyimpan sejuta kenangan.

Di tengah kepopuleran cafe-cafe aesthetic dan coffee shop kekinian yang memenuhi kota Makassar, mereka yang menyimpan sejuta cerita dari warga Makassar yang berkumpul sambil menyeruput kopi autentik masih hadir di sudut-sudut kota ini, dari dulu sampai sekarang.

Warkop-warkop ini adalah yang paling tua dan mereka dipercaya sebagai pelopor warung kopi di Makassar. Mereka punya langganan masing-masing dan justru, bukan hanya kopi dan apa yang mereka sediakan yang penting, tapi juga tentang setiap cerita yang mereka kenang dengan berharga...

Kita lihat sama-sama bagaimana kisah para perintisnya dan bagaimana tempat-tempat ini bertahan jadi ruang bercerita bagi banyak orang…

Warkop Phoenam

Warkop ini dinamakan dari bahasa Mandarin yaitu Phoenam yang berarti terminal atau tempat persinggahan di selatan. Pemilik sekaligus pendiri warkop ini adalah Liong Thay Hiong bersama para kerabatnya pada tahun 1946 sebagai generasi pertama. Kini warkop ini dikelola oleh generasi kedua dan saat ini sudah membuka tiga cabang di Makassar dan satu di Jakarta.

Phoenam punya kopi susu andalan yang diseduh dengan cara tradisional dan roti goreng serta roti lapis gorengnya yang khas melekat di lidah pelanggan.

Warung Tong San

Pelopor warung kopi di Makassar ini didirikan pada tahun 1943 di jalan Banda dan pindah ke jalan H. Borra No.20/22 setelah peristiwa ledakan bom Jepang yang merenggut nyawa suami pendiri, Liem Sie. Nama Tong San sendiri dalam bahasa Mandarin berarti matahari terbit karena sejak awal dibuka dari jam 4 dini hari, tapi sekarang menyesuaikan menjadi jam 9 pagi.

Apa yang disajikan masih sederhana, seperti kopi hitam dan kopi susu. Ada juga yang tidak kalah menarik dan menjadi ciri khas tersendiri yaitu cemilan tradisional seperti apang paranggi, doko-doko cangkuning, buroncong, pawa, dan lain sebagainya.

Warkop Hai Hong

Terletak di jalan Bonerate, warkop Hai Hong didirikan pada tahun 1945 oleh Tham Yo Hai. Sekarang warkop Hai Hong sudah dikelola oleh generasi ketiga dari keturunan sang pendiri, dan pada tahun 2016 telah membuka cabang pertamanya di jalan Pelita Raya.

Hai Hong ini menjadikan kopi jahe dan kopi madu sebagai menu andalan yang menarik atensi masyarakat, dan pastinya menyediakan kopi yang diolah secara manual. Ada juga cemilan khas Sulsel seperti Jalangkote, Doko-Doko, dan Panada.

Warkop Dottoro

Kabarnya, pendiri warkop ini dulunya berprofesi sebagai seorang pelayan warung, sebelum akhirnya mendirikan warkop Dottoro pada tahun 1975, dia adalah Dg. Naba. Namanya mungkin terdengar tidak asing karena Dottoro adalah sebutan dokter dalam bahasa Makassar. Uniknya nama ini diberi oleh pelanggan awal karena menurut mereka kenikmatan kopi racikan Dg Naba bisa menyebuhkan sakit kepala, sehingga warkop ini dianggap seperti dokter dan obat yang menyembuhkan penat dan rasa suntuk di rumah dan lelah setelah beraktivitas seharian.

Warkop ini baru meroket pada tahun 90an akhir dan sekarang punya 20 cabang di seluruh Indonesia. Menu andalan mereka sendiri adalah kopi susu yang autentik, karena perpaduan bubuk kopi toraja arabika dan robusta dengan susu kental manis.

Warkop Alaska

Banyak kenangan dari mereka yang pernah duduk dan merasakan hangatnya sajian dari warkop ini. Mungkin sedikit berbeda karena menu andalannya bukan lah kopi, melainkan nyuknyang atau bakso dan air tahu yang tak pernah berubah sejak dulu.

Ayo deh coba sama-sama~ Nda adaji yang marah?

Pertama tayang di Instagram @supet.id. Teks dirapikan untuk web dengan bantuan AI dan ditinjau sebelum tayang.

📸

Lihat versi carousel di Instagram

Konten ini pertama kali tayang di @supet.id — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.

Lihat di Instagram →