🚐 Beli Merch
🚐
Berita Terkini

Pekerja Malam di Makassar Batasi Jam Kerja karena Khawatir Geng Motor

✍️ Redaksi Supet
📅 8 Oktober 2026
📍 Sulawesi Selatan
⏱️ 2 menit baca

Pekerja sektor informal yang beraktivitas malam hari di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, membatasi jam kerja dan mengubah rute pulang karena khawatir terhadap geng motor. Kekhawatiran itu menguat setelah seorang pria tewas akibat senjata tajam di kawasan Sudiang pada Minggu (4/10/2026) dini hari.

Menurut Kompas.id, korban berusia 24 tahun. Sebanyak 19 orang ditangkap terkait kasus tersebut, sebagian besar masih berusia anak.

Pulang lebih awal, ganti rute

Arja (30), penjual martabak asal Tegal, berjualan di Sudiang, sekitar 20 meter dari lokasi kejadian. Ia kini berusaha pulang sebelum pukul 24.00 Wita. Sebelumnya ia biasa berjualan hingga pukul 02.00 dini hari.

Arja juga tidak lagi memakai jalan pintas lewat lorong gelap. Ia memilih jalur utama meski lebih jauh. Menurut dia, pada akhir pekan kelompok geng motor kerap melintas di depan tempatnya berjualan, sebagian membawa busur atau senjata tajam. Ia mengaku tidak pernah diancam langsung.

\"Tidak segan membunuh. Makanya saya sekarang pulang lebih cepat.\" — Arja, pedagang martabak

Penjualan menurun

Jannah (46), pedagang nasi kuning di Jalan Perintis Kemerdekaan, Tamalanrea, berjualan setiap hari mulai pukul 19.00 hingga sekitar pukul 06.00 Wita. Ia mengatakan tawuran antarkelompok pernah terjadi di depan warungnya sekitar sebulan lalu. Sebagian peserta membawa busur panah dan senjata tajam. Tawuran berhenti setelah ia berteriak melerai dan sejumlah warga laki-laki keluar rumah.

Penjualan Jannah turun dari sekitar 20 liter nasi per malam pada awal tahun menjadi sekitar separuhnya. Ia menyebut kondisi ekonomi yang sulit mengurangi pembeli. Menurut dia, kekhawatiran soal keamanan membuat sebagian orang enggan keluar malam.

Jannah berharap ada patroli petugas dan pelaku yang tertangkap diproses sesuai hukum agar ada efek jera.

Pengemudi ojek daring

Wandi (33), pengemudi ojek daring, kini membatasi kerja malam hingga dini hari. Ia takut menjadi korban kekerasan. Menurut dia, rekan-rekannya hampir setiap malam melaporkan kelompok geng motor berkeliaran, dari wilayah perbatasan hingga pusat kota.

Wandi menyebut sejumlah warga yang sedang berkumpul dan tidak terlibat masalah pernah menjadi sasaran pembusuran atau pengejaran. Ia berharap patroli keamanan ditingkatkan.

\"Kami yang bekerja di malam hari jadi terdampak. Khawatir keluar, padahal kebutuhan tidak pernah berubah, malah makin tinggi.\" — Wandi, pengemudi ojek daring

Sumber

Artikel ini disusun redaksi Supet dengan bantuan AI dari sumber yang dicantumkan, lalu ditinjau sebelum tayang. Menemukan kesalahan? Kabari kami.