🚐 Beli Merch
🚐
Lokal Vibes

Okkots: Saat Makan Jadi Makang dan Memang Jadi Meman

✍️ Redaksi Supet
📅 28 Oktober 2026
📍 Sulawesi Selatan
⏱️ 2 menit baca

Pernah dengar orang bilang “makang ikang di pinggir pantai” lalu “meman enak sekali”? Itu namanya okkots: kebiasaan khas orang Sulawesi Selatan, terutama Makassar dan Bugis, mengubah akhiran kata bahasa Indonesia tanpa sadar.

Dua arah, satu huruf

Polanya bolak-balik. Kadang G muncul padahal tidak ada: makan jadi makang, ikan jadi ikang. Kadang G hilang padahal ada: memang jadi meman, pisang jadi pisan. Kalau semuanya muncul dalam satu kalimat: “Enapnya makang apa yah, pisan gorem atau ayang?”

Penulis Mojok, Aliurridha, juga mencatat pertukaran serupa pada akhiran M. Ia mendengar penutur Makassar mengucapkan “malam” sebagai “malang”.

Bedah bunyinya

Arah yang pertama, munculnya G, bisa dijelaskan lewat aturan bunyi bahasa Makassar. Menurut tata bahasa Makassar yang disusun linguis Anthony Jukes (2020), di akhir kata hanya ada dua bunyi penutup. Yang pertama bunyi -ng. Yang kedua bunyi glotal, yaitu napas yang tertahan di tenggorokan, seperti ujung kata “tidak” atau “bapak” saat diucapkan cepat.

Konsonan lain tidak bisa berdiri di ujung kata. Nasal di akhir suku kata umumnya diucapkan sebagai -ng, dan konsonan hambat seperti k, t, dan p diucapkan sebagai bunyi glotal. Bunyi s dan l bahkan sama sekali tidak bisa menutup suku kata. Kata dasar yang berakhir dengan bunyi itu mendapat tambahan vokal, lalu ditutup bunyi glotal yang ditulis dengan apostrof, contohnya ótere’ (tali).

Artinya, lidah penutur Makassar terbiasa menutup kata dengan -ng, bukan -n. Kebiasaan itu ikut terbawa ke bahasa Indonesia: makan jadi makang.

Kata peneliti

Dalam linguistik, gejala ini disebut interferensi fonologi: bunyi bahasa daerah masuk ke bahasa Indonesia. Azzahrah dan Fiddienika (2024) meneliti satu episode Podcast Warung Kopi, podcast YouTube yang dipandu Praz Teguh. Episode itu menghadirkan dua penutur bahasa Makassar yang tinggal di Jakarta, Arif Suryadi Brata dan Adi Surya. Dari percakapan mereka dalam bahasa Indonesia, peneliti mencatat 22 data interferensi fonologi, yang terbagi dalam tiga jenis: penambahan bunyi, pengurangan bunyi, dan pergantian bunyi.

Jadi waktu “makang ikang di pinggir pantai” terdengar lagi, yang bekerja di situ adalah aturan bunyi bahasa Makassar: menutup kata dengan -ng, seperti yang sudah dilatih lidah sejak kecil.

Sumber:

  • Anthony Jukes, A Grammar of Makasar (2020), via Wikipedia “Makassarese language”
  • Wikipedia “Okkots”
  • Aliurridha, Mojok (15 April 2020)
  • Azzahrah, S. F. & Fiddienika, A. (2024). Interferensi Fonologi dan Morfologi Bahasa Makassar terhadap Bahasa Indonesia dalam Podcast Warung Kopi. Stilistika 17(2), 331–344.