🚐 Beli Merch
🚐
#MakassarMerantau

Muhammad Zaidy: Perjalanan yang Penuh Warna, Layaknya Sebuah Film

✍️ Redaksi Supet
📅 15 Juli 2025
⏱️ 5 menit baca
Foto: @makassarmerantau

Muhammad Zaidy, yang akrab disapa Eddy, sudah merantau 23 tahun. Ia adalah seorang produser film di rumah produksi yang ia dirikan bersama Meiske Taurisia, Palari Films. Ini cerita tentang bagaimana ia mengejar mimpi hingga akhirnya menemukan jati dirinya di tanah perantauan.

Meski semuanya bermula dari sebuah ramalan saat SMA, ternyata hidup benar-benar membawanya ke banyak tempat dan pengalaman. Dari kuliah di Jakarta sampai ke ibukota dunia, New York, perjalanannya tak hanya untuk berkembang, tapi juga menemukan siapa dirinya.

Di sana, ia bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, sudut pandang yang baru, dan tantangan hidup yang membentuk cara berpikirnya. Dari salah satu pengalaman itulah lahir inspirasi untuk film No.1 di Netflix, Ali & Ratu-Ratu Queens.

Berawal dari sebuah ramalan...

"Sewaktu di Makassar, hiburan pertama saya adalah Bioskop 21 di Ratulangi dan Makassar Theatre. Selain itu, satu-satunya mal di Makassar itu mal Matahari Maricaya dan suatu hari, Mama Lauren, seorang peramal ibukota hadir di tempat itu. Berawal dari iseng, ia pun sempat membaca telapak tangan saya dan berkata, 'Suatu saat kamu akan merantau jauh.'

"Awalnya saya anggap remeh, tapi ramalan itu benar adanya."

Setelah lulus dari SMAN 1 Makassar, saya memutuskan untuk lanjut kuliah di Binus (E-commerce Management), Jakarta. Tapi mimpi saya bukan di situ, saya pindah ke Universitas Indonesia jurusan D3 Broadcast (sekarang Penyiaran Multimedia) dan S1 Politik.

Di kampus inilah saya bertemu dengan teman filmmaker saya seperti Angga Sasongko dan Gina S. Noer. Semua itu jadi pintu awal menuju dunia film.

Merantau membuka banyak kesempatan baru...

"Saya merantau tak hanya untuk kuliah. Saya mau berkembang.

Saya pernah jadi Radio Producer & Reporter di Trax FM, lalu menjadi seorang Creative Producer di Trans Studio Jakarta, sampai akhirnya pada tahun 2010, saya mengambil langkah besar untuk lanjut S2 di New York Film Academy."

Bertemu dengan kepribadian yang berbeda-beda...

Di Makassar, orang-orangnya cenderung homogen, kebanyakan memiliki latar belakang yang mirip. Ketika saya pindah ke Jakarta, saya mulai terbiasa dengan keberagaman: suku, ras, orang-orang asli, dan para pendatang yang sama-sama merantau ke ibukota.

Tapi ketika langkah saya sampai di New York, benar-benar membuka mata saya. Segalanya terasa baru dan begitu berbeda. Saya masih ingat, saya punya sahabat asal Finlandia, cara pandangnya sangat berbeda, dan dia berani sekali mengungkapkan pikirannya apa adanya.

Dari dia saya belajar, bahwa merantau sejauh ini sebenarnya adalah proses belajar. Belajar menerima perbedaan, belajar terbuka pada hal baru, dan berani menghadapi tantangan.

Queens, awal mula "Ali & Ratu Ratu Queens"

Sebelum pindah ke Manhattan, enam bulan pertama di New York saya jalani dengan sederhana di Queens, sebuah distrik yang terkenal sebagai latar film Spiderman.

Saat itu, saya menyewa kamar dan berbagi atap dengan beberapa orang Indonesia.

Mereka datang dari latar belakang yang beragam, tapi sama-sama bekerja keras untuk bertahan. Ada yang jadi supir Uber, pelayan restoran, sampai menjual catering makanan Indonesia.

Dari cerita dan pengalaman inilah, lahir ide film "Ali & Ratu-Ratu Queens" yang saya tulis bersama Gina S. Noer, yang kemudian menjadi Film No.1 di Netflix.

Lima tahun di New York akhirnya membuahkan banyak hal. Di sana, saya benar-benar menemukan jati diri saya dan apa yang saya mau.

Awalnya, saya harus beradaptasi habis-habisan: belajar hidup dengan mobilitas tinggi, jalan kaki lebih sering, naik subway, terbiasa dengan orang-orang yang serba cepat dan to the point.

Lama-lama, semua itu membuat saya nyaman. Sampai akhirnya saya sadar bahwa inilah saya: orang yang fast-paced, extrovert, outgoing, dan selalu goal-oriented!

Rindu?

Tentu saja, merantau jauh sering membuat saya rindu. Rindu keluarga, teman-teman, dan semua hal di Makassar.

Dulu saya suka sekali menonton film di Makassar Theatre dan Bioskop XXI di Ratulangi, lalu makan Mie Anto sehabisnya.

Tapi meskipun sering rindu, saya sempat hampir menetap selamanya di New York.

Di sanalah saya merasa nyaman dan menemukan banyak hal.

Sampai akhirnya, sepupu saya menawari pulang untuk kerjasama dengan Miles Films dan Riri Riza untuk membuat film "Athirah" di Makassar sebagai co-producer.

Setelah mengerjakan film Athirah, saya berpikir untuk membuat karya-karya lain di tanah air dan memutuskan untuk menetap di Indonesia.

Saya bersama Meiske Taurisia kemudian mendirikan rumah produksi di Jakarta bernama Palari Films.

Inilah jalan hidup yang saya tekuni sampai sekarang.

Di sela-sela kesibukan, saya juga tetap melakukan hal yang saya sukai, yaitu traveling dan berolahraga.

Sejak mendirikan Palari Films, Eddy telah memproduseri sejumlah film yang tak asing bagi penikmat sinema Indonesia, seperti Posesif (2017), Aruna & Lidahnya (2018), Ali & Ratu Ratu Queens (2021), Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), Dear David (2023), Kabut Berduri (2024), Tebusan Dosa (2024), dan Ratu Ratu Queens the Series (2025).

Meski kembali, apakah itu adalah Makassar?

Perasaan rindu pada Makassar tetap ada, tapi justru dari perantauanlah Eddy memahami arti pulang. Bukan sekadar kembali ke tempat asal, tapi ke tempat di mana kita merasa nyaman dan bisa terus bertumbuh.

"Pulang bagi saya bukan lagi tentang harus di Makassar, kota saya dilahirkan dan dibesarkan, namun tempat di mana saya merasa nyaman, dan where I belong to."

"Pulang juga adalah ketika saya mengunjungi Makassar sambil melihat perkembangan seni kontemporer, perfilman dan sastra asli Makassar."

"Jika suatu saat saya bisa turut membangun kota Makassar, saya ingin kembali bekerja sama dengan teman-teman asal Makassar lainnya seperti Riri Riza sebagai penulis dan sutradara senior, memberi mentoring kepada mereka yang bercita-cita untuk membangun industri film, bahkan bekerja sama juga dengan para film maker yang punya potensi yang besar seperti Aditya Ahmad dan Khozy Rizal.

Saya percaya semuanya bisa saya lakukan di mana saja saya merasa nyaman, tanpa harus kembali tinggal menetap di Makassar."

Pesan saya untuk kamu yang ingin merantau

Pergilah, selalu ikuti intuisimu dan kata hatimu. Jangan merasa malu dan takut jika kamu harus memulai sebuah perjalanan yang baru bahkan bila dekat atau jauh dari tempatmu sekarang berada, karena di manapun kamu berada, itu hanyalah sebuah lokasi.

Biarkan hatimu berbicara dan teruslah mencari mimpi,

ketika kamu yakin dengan pilihanmu, kamu tak hanya berkembang, tapi juga memberi dampak yang baik bagi tempatmu mencari pengetahuan yang lebih.

Dan tetaplah ingat, every process cost something wherever you go!

Jadi teruslah berjalan, jadilah realistis, dan ingat tujuanmu awalmu. Jangan sia-siakan waktu dan kesempatan yang kamu miliki...

Makassar bisa lebih, ada banyak potensi dan dampak positif yang menanti dari anak muda.

Pertama tayang sebagai carousel di Instagram @makassarmerantau. Teks dirapikan untuk web dengan bantuan AI dan ditinjau sebelum tayang.

📸

Lihat versi carousel di Instagram

Konten ini pertama kali tayang di @makassarmerantau — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.

Lihat di Instagram →