🚐 Beli Merch
🚐
#KenapaMakassar

Makassar Terlalu Unik! Cerita Magdalena I. Ovi, dari Surabaya

✍️ Redaksi Supet
📅 20 November 2025
⏱️ 3 menit baca
Foto: @supet.id

Ini Magdalena I. Ovi, asal Surabaya. Ia seorang marketer di perusahaan telekomunikasi digital, penulis, entrepreneur, dan Professional Authentic Productivity Coach yang akhirnya memilih menetap di Makassar. Yang awalnya hanya penempatan kerja di tahun 2012, berubah jadi kota yang ia tinggali sampai sekarang.

Dari Penempatan jadi Tempat Tinggal!

"Saya awalnya pindah karena penempatan kerja pada pertengahan tahun 2012. Pertama dari Surabaya ke Semarang, lalu akhirnya berlabuh ke Makassar."

Makassar Memang Unik!

"Dari segi keramaian sampai karakter orang-orangnya, di Makassar mirip ya dengan Surabaya. Orang-orangnya itu apa adanya, nada suara tegas tapi selalu terbuka, guyup, dan punya jiwa kekeluargaan yang tinggi.

Nah, tapi kalau kita bahas keunikan, yang paling saya suka dari Makassar itu kemudahan akses ke tempat-tempat wisatanya. Kalau mau ke pantai pasir putih, bisa naik kapal beberapa menit saja sudah dapat Pulau Samalona. Terus kalau mau ke daerah dengan suhu dingin, perjalanan singkat ke Malino sudah oke.

Selain itu tentu saja dari makanannya. Walaupun persepsinya orang luar ke kuliner Makassar itu kolestrolnya tinggi, saya rasa banyak ragam olahan sayur khas Makassar yang juga enak dan sehat untuk dikonsumsi seperti Lawa, Binte, dan yang terfavorit buatku, Kapurung!

Nah, kalau keragaman makanan kaya rasa dari 4 suku yang pernah saya coba itu dari suku Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja."

Memang cuma Makassar!

"Beberapa hal lain yang benar-benar unik di Makassar itu kalau ada mobil jenazah, pasti para pengantarnya itu heboh. Terus yang saya rasakan perbedaannya dan tidak ada di kota lain itu bagaimana semangat para jamaah Hajinya Makassar dan Sulawesi Selatan lah yang ketika pulang dari tanah suci, pasti antusias sekali sampai dandanannya pun ala-ala Princess Disney.

Dan lagi masih soal makanan, walaupun ada di kota lain jenis olahannya dengan penamaan yang berbeda seperti Bebek Dangkot, Pallubasa, Lawa, Kapurung, dan Ayam Liku, saya pikir rasanya tidak akan sama dan tidak seunik Makassar punya."

Tapi, bagaimana saya beradaptasi?

"Pastinya ketika saya berpindah, hal paling pertama yang saya lakukan ialah bergabung ke komunitas. Di era digital ini, saya rasa hal itu memudahkan saya untuk mengobservasi komunitas yang sesuai dengan kebutuhan dan minat saya.

Awal-awal saya bergabung dengan komunitas AIMI karena saat itu saya sedang hamil, makanya saat itu saya bertemu banyak ibu-ibu muda yang helpful, saling support dan saling belajar.

Sebagai seorang digital enthusiast, saya turut bergabung di komunitas blogger kala itu saat masih hits dan eksis di twitter, dan lewat setiap koneksi di komunitas, saya jadi banyak bertemu kawan-kawan baru, salah satunya supet.id!

Kalau saat ini, saya bergabung dengan salah satu komunitas baca buku yaitu Book Club Makassar.

Namun, beradaptasi di Makassar masih sulit dari sisi kondisi infrastruktur seperti jalanan yang belum terlalu mengakomodir pejalan kaki, karena saya sendiri suka berjalan kaki.

Saya pikir warga seperti saya membutuhkan lebih banyak pedestrian dan keamanan di jalan, karena saya masih sering mendapati banyak selokan terbuka yang membahayakan. Selain itu kita juga sepertinya membutuhkan lebih banyak jembatan penyebrangan.

Tapi, dari segi penataan kotanya sendiri saya suka dari sisi taman kota yang cukup memadai.

Adaptasi itu memang tak memakan banyak waktu bagi saya, walaupun saya juga belum terbiasa untuk memakan sayur kacang hijau dan sayur labu, karena dulu di Jawa bahan-bahan tersebut dibuat olahan makanan manis seperti kolak, bukan sayur."

Setiap cerita dan musim berlalu, menciptakan rasa nyaman

"Pada akhirnya saya menetap di kota ini, karena meskipun saya tak lagi berada di Surabaya, saya merasa nyaman dengan masyarakatnya yang guyub, loman, suka memberi hadiah, dan pasti makanannya enak-enak!

Orang-orang tercinta juga ada di Makassar, termasuk Suami yang memang berasal dari Makassar dan punya usaha di sini, serta adanya sanak keluarga."

Makassar yang unik ini dengan alamnya yang indah, perlu dirawat dan difasilitasi agar lebih keren!

Pertama tayang di Instagram @kenapa.makassar. Teks dirapikan untuk web dengan bantuan AI dan ditinjau sebelum tayang.

📸

Lihat versi carousel di Instagram

Konten ini pertama kali tayang di @kenapa.makassar — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.

Lihat di Instagram →