Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), baru memiliki empat fasilitas pusat data dari total 204 fasilitas di Indonesia per September 2026. Jakarta menampung 107 di antaranya. Angka itu dipaparkan Amril Taufik Gobel, Corporate Communication Advisor PT Nindya Karya (Persero), dalam tulisan opini di SulawesiPos.
Menurut tulisan tersebut, jumlah fasilitas nasional itu menempatkan Indonesia di peringkat keempat di Asia.
Jejak pusat data di Makassar
Amril menyebut fondasi pusat data di Sulsel diletakkan lewat Sulawesi Maluku Papua Cable System milik Telkom. Jaringan itu terdiri atas kabel laut 5.444 kilometer dan kabel darat 655 kilometer, dengan pembangunan yang bermula dari Makassar.
IDC Makassar di lantai enam Menara Bosowa rampung pada 2015. Fasilitas ini tercatat sebagai pusat data publik pertama di kawasan timur Indonesia. Telkom juga membangun neuCentrIX di Mattoangin dengan kapasitas 50 rak penuh dan 15 subrak.
Pada 2018, kabel Indonesia Global Gateway sepanjang 5.300 kilometer singgah di Makassar. Kabel itu menghubungkan Dumai hingga Manado.
Penetrasi internet dan indikator ekonomi
Pengguna internet nasional mencapai 235,26 juta jiwa atau 81,72 persen penduduk. Penetrasi di Pulau Sulawesi masih 72,58 persen.
Ekonomi Sulsel tumbuh 5,59 persen pada triwulan II 2026, di atas pertumbuhan nasional 5,29 persen. Data Bank Indonesia mencatat 1,48 juta pengguna dan 1,46 juta pedagang QRIS di provinsi ini.
Dari sisi energi, PLN mencatat pada awal 2025 sistem kelistrikan Sulawesi bagian selatan memperoleh pasokan 45,7 persen dari energi terbarukan. Sumbernya pembangkit air Bakaru, Malea, dan Poso, serta tenaga angin di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Kabupaten Jeneponto.
Asosiasi penyelenggara pusat data menilai Makassar layak menjadi simpul bagi Indonesia Timur karena letaknya strategis untuk membagi lalu lintas data ke timur. Pemerintah pusat disebut sedang menyusun rencana induk agar pusat data tidak hanya tumbuh di barat.
Pasar dan tekanan ekonomi global
Mordor Intelligence memperkirakan nilai pasar pusat data Indonesia naik dari US$1,83 miliar pada 2026 menjadi US$3,48 miliar pada 2031. Nilai transaksi ekonomi digital nasional pada 2025 mendekati US$100 miliar.
Dana Moneter Internasional memangkas proyeksi pertumbuhan dunia 2026 menjadi 3,0 persen, dengan inflasi global 4,7 persen akibat guncangan energi dari konflik di Timur Tengah. Rupiah ditutup di Rp17.916 per dolar AS pada 24 September. Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 5,75 persen.
Menurut Amril, kondisi itu berdampak langsung pada pembangun pusat data. Server, cip pemroses, dan mesin pendingin dibeli dengan dolar, sedangkan pendapatan diterima dalam rupiah.
Kapasitas terpasang pusat data nasional saat ini 580 megawatt. Tambahan sekitar 1,3 gigawatt senilai US$15 miliar hingga US$20 miliar yang masih dalam antrean terutama mengarah ke Batam. Perusahaan teknologi besar memperluas fasilitas di Karawang.
Badan Energi Internasional memperkirakan konsumsi listrik pusat data dunia mencapai sekitar 945 terawatt jam pada 2030, didorong kecerdasan buatan.
Sumber
Artikel ini disusun redaksi Supet dengan bantuan AI dari sumber yang dicantumkan, lalu ditinjau sebelum tayang. Menemukan kesalahan? Kabari kami.