🚐 Beli Merch
🚐
#MakassarMerantau

Lala Nabila: Menemukan Jodohku, tapi Ini tentang Jodoh yang Lain di Perantauan

✍️ Redaksi Supet
📅 17 Juli 2026
⏱️ 3 menit baca
Foto: @makassarmerantau

Lala Nabila telah merantau dari Makassar ke Jakarta selama 15 tahun. Awalnya bukan karena mengejar karir, melainkan karena sebuah rencana pernikahan yang pada akhirnya tidak pernah terjadi.

Berjodoh dengan kota

"15 tahun lalu, saya meninggalkan Makassar ke Jakarta karena saya nyaris saja menikah dengan mantan pacar saya, alias ternyata kami tidak berjodoh.

Long story short, karena sudah terlanjur di Jakarta saya akhirnya melanjutkan karir sebagai MC di sana dan alhamdulillah-nya masih saya pertahankan hingga kini."

Memperjuangkan jodoh itu tidak mudah

"Jodoh bukan hanya soal hubungan sesama manusia, tapi juga ketika saya merasa cocok dan berjodoh untuk melanjutkan karir di tempat yang baru. Dan prosesnya? Tentu saja tidak mudah.

Sebelum pindah ke Jakarta, sebenarnya saya sudah berkarir sebagai MC di Makassar yang bisa dibilang sudah cukup baik dan stabil lah. Nah, tapi ketika pindah, saya harus mulai lagi dari nol. Saat itu saya memulai dengan menjadi MC event-event kecil dari pasar ke pasar yang bayarannya ratusan ribu saja.

Tapi tidak apa-apa selama saya bisa membangun portofolio."

"Walau harus dari nol, tapi lancar-lancar ji toh?"

"Oh tentu tidak, tetap banyak tantangannya ketika kita' datang ke tempat baru. Salah satunya adalah memperluas networking, alias dulu itu saya cukup kesulitan kenalan dengan orang baru, terutama membuat mereka percaya untuk merekrut saya sebagai partner kerja.

Dari sinilah saya belajar bahwa, trust is earned, not given.

Proses awal untuk menyesuaikan diri agar bisa diterima dan membangun kepercayaan orang lain itulah yang justru membantu saya mencapai titik ini, menjadi seorang ibu rumah tangga yang happy dan gemar berolahraga sambil berprofesi sebagai MC/Host!

Jujur saja, merantau juga berhasil mengubah cara pandang saya, tapi ke arah yang lebih positif.

Bukan berarti saya senang meninggalkan Makassar, tapi di perantauan saya harus keluar dari zona nyaman untuk bisa meraih banyak hal. Salah satunya dengan cara bertemu dan berkenalan dengan banyak orang baru.

Meski awalnya sulit karena latar belakang setiap orang yang saya temui berbeda-beda, saya sadar bahwa kita itu harus bersikap layaknya botol kosong. Saya tidak apa-apanya di kota perantauan dan percaya kita semua begitu, so always, be humble and kind maka pintu kesempatan pasti akan terbuka."

Rindu apa sama Makassar?

"Makanannya for sure!

Banyak makanan dan jajanan Makassar yang selalu saya kangeni dan masih menempati tahta tertinggi di hati, seperti Kapurung, Bubur Ayam Niagara, Mie Anto, Pisang Molen Cenrana, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebut semua.

Tapi selain makanan, rindu ke orang-orangnya juga pasti ada, tapi untungnya circle pertemanan saya tidak besar dan banyak dari mereka juga sudah pindah ke Jakarta. Kalau pun masih ada di Makassar, biasanya tukar kabar lewat sosmed sudah lebih dari cukup."

Tentang pulang

"Hmm, kata "pulang" bagi saya bukan soal destinasi, but all of the peaceful things, and of course with my lovely family!

Jadi ya, saya memang belum ada rencana kembali lagi menetap di Makassar dan saya akan tetap membiarkan Makassar sebagai tempat tujuan liburan yang selalu bisa saya rindukan...

Tapi jika takdir berkata lain dan saya harus kembali ke Makassar, saya sangat ingin melihat Makassar yang lebih tertib, lebih rapi, dan lebih aman pastinya.

Tidak lupa juga, semoga orang-orangnya juga jadi lebih open minded agar bisa berkembang bersama-sama."

Secercah pesan untuk kamu

"Ketika kalian ingin merantau, ingat untuk membawa kebiasaan-kebiasaan baik dari Makassar. Jika bekerja, bekerjalah dua kali lebih keras dari biasanya. Jaga integritas dan kejujuran di manapun kita berada.

Pokoknya bulatkan tekadmu bahwa kita pergi merantau itu tidak untuk jadi yang biasa-biasa saja atau bahkan sama seperti sebelumnya."

People aware and appreciate our culture!

"Oh iya, satu lagi cerita tentang "perantauan" dan "Makassar".

Jadi suami saya yang notabenenya orang non-Makassar itu kagum dengan sikap perantau-perantau dari Makassar, yaitu semangat kekeluargaan yang begitu kental. Mau itu di Jakarta, Eropa, Inggris, kayak di manapun kami berjumpa dengan perantau Makassar, kami selalu mendapat sambutan hangat bak keluarga dekat.

Ciri khasnya? Kami diterima dengan hangat dan bahkan diberi jamuan terbaik.

Memang belum ada yang menandingi semangat persaudaraan orang-orang dari Makassar begitu tau ada rekan sekampungnya di tanah asing.

Makin kreatif dan solid ki' nah semua!

Kita' sebagai sesama orang Makassar akan selalu menjadi sumber kehangatan di perantauan."

Pertama tayang sebagai carousel di Instagram @makassarmerantau. Teks dirapikan untuk web dengan bantuan AI dan ditinjau sebelum tayang.

📸

Lihat versi carousel di Instagram

Konten ini pertama kali tayang di @makassarmerantau — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.

Lihat di Instagram →