Warung Sop Saudara langganan hampir pasti dimiliki setiap warga Makassar. Perantau pun begitu: di beberapa profil #MakassarMerantau, semangkuk sop ini sering masuk daftar makanan yang paling dirindukan. Tapi pernahkah kamu bertanya, kenapa namanya "saudara"?
Menurut perintisnya, H. Abdullah, perantau asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), nama itu singkatan dari "Saya Orang Pangkep Saudara". Ia sendiri mengaku singkatan itu hanya karangan. Maksud sebenarnya: ia menganggap semua orang di kota ini saudara. Ada dua cerita lain tentang asal nama tersebut.
Dari Pasar Sentral ke Pasar Senggol
H. Abdullah datang ke Makassar sekitar tahun 1954. Kota ini waktu itu masih bernama Ujung Pandang. Ia bekerja di warung sop daging di kawasan Pasar Sentral yang dikenal sebagai Sop Sentral. Di sana ia belajar berjualan sop, dari meracik bumbu sampai melayani pembeli.
Menurut penuturannya kepada detikSulsel pada April 2022, ia bekerja sekitar empat tahun sebelum memutuskan berdiri sendiri. Pemicunya kabar bahwa Pasar Senggol akan dibuka.
"Saya ambil keputusan saya mau membuka usaha sendiri, menjual di situ kalau malam. Di situlah saya mulai berjualan," tuturnya.
Ia tidak mau memakai nama warung tempatnya bekerja dulu. Nama Sop Saudara ia tulis sendiri di depan warungnya.
"Saya sendiri yang mencetuskan nama Sop Saudara. Dulu saya ambil kesimpulannya Sop Saudara seakan-akan saya memanggil semua yang ada di kota ini saudara semua," jelasnya.
Resep yang ia pelajari tidak dipakai mentah-mentah. Bumbu kuahnya diracik ulang. Ke dalam sop ia menambahkan usus, paru, dan jantung sapi di samping daging.
Begitulah sop yang dikenal sekarang terbentuk. Kuahnya berempah pekat dan diberi bubuk kacang tanah atau susu, sehingga terasa gurih dengan sedikit manis. Isinya daging sapi, paru goreng, soun, perkedel kentang, dan telur. Sop ini biasa disantap dengan nasi hangat, dan banyak warung menyajikannya bersama ikan bandeng bakar.
Budayawan Bugis Makassar Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Ery Iswary, M.Hum, menyebut penamaan itu akronim, sama seperti yang disampaikan H. Abdullah. Menurutnya, nama tersebut mencerminkan nilai persaudaraan yang tinggi dalam budaya Pangkep.
"Sehingga untuk makanan saja, untuk kuliner tradisional mereka, itu mementingkan persaudaraan. Bahwa ini untuk kita semua. Karena kita semua bersaudara."
Dr. Ery Iswary, budayawan Unhas
Dua versi lain, dan angka tahun yang tidak sama
Versi kedua berasal dari Andi Karunrung, yang pada Oktober 2017 menjabat Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Makassar. Seperti dikutip Tribuntoraja, ia bercerita bahwa Sop Saudara berawal dari H. Dollahi, pelayan H. Subair. Keduanya berasal dari Pangkep, dan H. Subair dikenal sebagai penjual sop daging di Makassar pada 1950-an.
Dalam versi itu, H. Dollahi mengikut H. Subair selama tiga tahun. Pada 1957 ia membuka warung sendiri di kawasan Pasar Senggol Karebosi. Nama Sop Saudara disebut terinspirasi dari "Coto Paraikatte". Paraikatte berarti "sesama kita", yang maknanya sama dengan "saudara".
IDN Times Sulsel menulis bahwa H. Abdullah juga dikenal sebagai H. Dollahi, dan warung tempatnya bekerja milik H. Subair. Bila keduanya memang satu orang, perbedaan kedua cerita ada pada lama bekerja (empat tahun menurut H. Abdullah, tiga tahun menurut Andi Karunrung), tahun membuka warung, dan asal nama (singkatan versus Coto Paraikatte).
Versi ketiga menyebut sop ini dulu dikenal sebagai sop pangkep. Sebutan "sop saudara" disebut muncul karena dijual dua orang bersaudara. Cerita ini tidak datang dari perintisnya.
Versi H. Abdullah dan versi Andi Karunrung sama-sama menyebut maksud nama itu: agar siapa pun yang makan merasa bersaudara dengan pemilik, pelayan, dan sesama pelanggan.
Dari satu warung, menyebar ke mana-mana
Pada 1970, warung H. Abdullah pindah ke Jalan Andalas. Dalam wawancara April 2022, ia menyebut warung itu masih bertahan.
Seiring waktu, sejumlah bekas karyawannya membuka usaha sendiri dengan nama yang sama. Ia tidak mempersoalkannya, meski nama itu dipakai tanpa izin.
"Saya tidak larang pakai merek itu," katanya. Ia mengaku justru bersyukur kalau nama itu dikenal banyak orang.
Beberapa hal yang jarang diketahui
- Sop Saudara khas Pangkep, tetapi pertama kali dijual dengan nama itu di Makassar. Menurut Ery Iswary, sop ini baru populer setelah dijual di kota.
- Sop Saudara mirip Coto Makassar. Bedanya, ada bihun atau soun dan perkedel.
- Menurut IDN Times Sulsel, telur bebek rebus membuat kuahnya lebih kental dan gurih. Sop ini juga paling enak disantap selagi panas.
- Pangkep dijuluki "Kota Sop Saudara".
- Di Jakarta, Warung Ijo di Menteng menjadikannya menu andalan. Kedai milik orang Makassar itu buka sejak Februari 2024, dan antrean pelanggan sering terlihat di sana.
Jadi lain kali semangkuk Sop Saudara tiba di mejamu, ingatlah bahwa asal namanya punya tiga cerita. Dua di antaranya sama-sama menyebut nama itu dimaksudkan agar pelanggan merasa bersaudara.
Sumber
- detiksulsel — Sejarah Sop Saudara, Legenda Kuliner Sulawesi Selatan Rintisan H Abdullah
- detikTravel — Asal-usul Sop Saudara, Kuliner Legendaris Sulawesi
- detikfood — Warung Ijo: Gurihnya Juara! Sop Saudara Khas Makassar Pakai Buras Lembut
- IDN Times Sulsel — 5 Fakta Menarik Sop Saudara Kuliner Legendaris Khas Pangkep
- Tribuntoraja.com — Kenapa Dinamakan Sop Saudara? Ini Dia Sejarah dan Resep Kuliner Legendaris Khas Pangkep - Tribuntoraja.com
Foto: detiksulsel (sumber)
Artikel ini disusun redaksi Supet dengan bantuan AI dari sumber yang dicantumkan, lalu ditinjau sebelum tayang. Menemukan kesalahan? Kabari kami.