Pertama-tama harus ki' sadar kalau tidak semua rasa kehilangan ditandai dengan perpisahan, tapi ada yang datangnya pelan-pelan.
Contohnya kehilangan teman akrab, yang dulunya dia mi paling tau semua cerita hidupmu, tapi sekarang cuman jadi penonton story.
Ada juga kehilangan versi diri, atau kayak merasa beda mi diri ta' sekarang dan dulu. Sekarang lebih berani ki', spontan, dan lebih ringan menjalani kehidupan.
Ada juga kehilangan waktu, khususnya waktu bersama orang tua ta'. Baru yang bertambah itu bukan waktu, tapi usianya mereka...
Kehilangan mimpi juga yang dulunya diperjuangkan setengah mati. Alasannya bukan karena gagal, tapi karena hidup sudah berubah arah.
Ada juga yang kehilangan rumah. Tapi di sini yang dimaksud bukan bangunannya, tapi rasa hangat yang sudah memudar.
Belum lagi kehilangan momen dan kebiasaan kecil kayak makan bersama atau deep talk sampai tengah malam.
Ini juga paling banyak terjadi, kehilangan orang yang masih hidup. Orangnya memang masih ada tapi dia sudah tidak lagi menjadi bagian dari hidup ta'.
Kita' semua kehilangan waktu dan sayangnya baru disadari setelah melihat foto-foto lama.
Dan lucunya, kehilangan seperti ini semua jarang ada yang menghibur, karena semesta sendiri tidak menganggapnya sebagai sebuah kehilangan.
Alias kita' ji yang merasa begitu...
Tapi setidaknya, hati ta' selalu mengingat kalau ada banyak hal-hal yang begitu berharga, meski sekarang sudah hilang.
Asal bukan yang dipake beli bensin hilang iya kodong 🥲
Pertama tayang di Instagram @supet.id. Teks dirapikan untuk web dengan bantuan AI dan ditinjau sebelum tayang.
Lihat versi carousel di Instagram
Konten ini pertama kali tayang di @supet.id — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.
Lihat di Instagram →