🚐 Beli Merch
🚐
Berita Terkini

Kebakaran di TN Bantimurung-Bulusaraung Pangkep Mendekati Gua Lukisan Cadas

✍️ Redaksi Supet
📅 14 Oktober 2026
📍 Sulawesi Selatan
⏱️ 3 menit baca
Foto: IDN Times Sulsel (sumber)

Kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan (Sulsel), menjalar ke zona rimba dan zona inti serta mendekati gua yang menyimpan lukisan cadas berusia lebih dari 45 ribu tahun. Pemadaman masih berlangsung hingga Rabu (14/10/2026).

Luas area dan lokasi kebakaran

IDN Times, SuaraSulsel.id, dan Suaracelebes.com melaporkan luas area terbakar sekitar 26 hektare. Suaracelebes.com menyebut angka itu sebagai perkiraan terbaru di lapangan, naik dari taksiran awal 10 hingga 15 hektare.

Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Abdul Rajab, menyatakan luasan belum bisa ditaksir karena petugas masih fokus memadamkan api. Biasanya pemetaan diulang pada sore hari, tetapi drone tidak bisa terbang dekat karena kabut asap.

Soal lokasi, sumber juga berbeda. IDN Times dan Suaracelebes.com menyebut kebakaran terjadi di Kecamatan Minasatene. Menurut Rajab, api bermula di Kampung Bangkasakeang, Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, pada Minggu (11/10/2026) pukul 21.00 Wita. Pada hari keempat, api merembet ke kawasan karst Kampung Batu Napara, Kelurahan Balocci Baru. Rajab mengatakan api di dua titik itu sama.

SuaraSulsel.id melaporkan jarak api dari mulut gua hanya beberapa meter.

Ancaman bagi lukisan cadas

Arkeolog Griffith University, Australia, Basran Burhan, menyatakan kebakaran di sekitar situs lukisan cadas dapat merusak secara permanen. Kerusakan tidak hanya datang dari api yang menyentuh dinding gua, tetapi juga dari panas dan asap.

\"Bahkan tanpa ada api langsung yang menyentuh lukisan pun, itu bisa merusak lukisan,\" kata Basran.

Menurut dia, perubahan suhu drastis dapat membuat batuan retak dan pecah, sehingga lapisan permukaan yang mengandung pigmen terkelupas. Asap membentuk jelaga yang menutupi gambar dan mengaburkan warna aslinya.

Basran menambahkan, pergantian musim sudah memicu pengelupasan permukaan batuan karst yang dikenal sebagai fenomena \"kulit semangka\". Saat hujan, air membawa kristal garam ke dalam batuan. Saat kemarau, air menguap dan kristal menumpuk di balik lapisan permukaan. Panas kebakaran dikhawatirkan memperburuk proses itu.

Menurut data yang disampaikan Basran, karst Maros-Pangkep memiliki 734 situs prasejarah, dengan lebih dari 400 situs di antaranya berisi lukisan cadas. Lukisan di kawasan itu antara lain berupa gambar hewan dan cap tangan.

Kendala pemadaman

Tim Manggala Agni bersama TNI, Polri, relawan, dan pengelola taman nasional dikerahkan ke lokasi. Koordinasi penambahan personel dilakukan dengan Manggala Agni Daerah Operasi Gowa.

Petugas memakai pompa air, selang, dan alat pemadam punggung atau jetshooter. Mereka bekerja di tebing, celah batu, dan lereng terjal Gunung Arung Sabila, dengan angin kencang yang berpotensi mempercepat api.

Rajab menyebut sebagian titik api berada di puncak karst yang tidak bisa dijangkau kendaraan. Sumber air juga terbatas.

\"Teman-teman terpaksa mengambil air dari mobil damkar untuk mengisi jet shooter saja. Untuk disemprot langsung tidak bisa karena jauh sekali,\" kata Rajab.

Petugas juga menghadapi risiko longsoran batu, pohon tumbang, dan paparan asap. Dalam kondisi tertentu, mereka membuat sekat bakar untuk membatasi penjalaran api. Pemadaman memprioritaskan perlindungan permukiman yang berbatasan dengan kawasan hutan. Waktu api padam sepenuhnya belum diketahui.

Dari sisi satwa, Rajab menyebut kerusakan vegetasi dan gangguan habitat sebagai dampak terparah. Satwa yang rentan antara lain tarsius, yang beraktivitas di rumpun bambu dan pohon jati di dasar hingga tebing karst. Tim lapangan sudah menemukan burung, bunglon, dan ular yang terdampak.

Sumber

Foto: IDN Times Sulsel (sumber)

Artikel ini disusun redaksi Supet dengan bantuan AI dari sumber yang dicantumkan, lalu ditinjau sebelum tayang. Menemukan kesalahan? Kabari kami.