Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan (Sulsel), belum padam hingga Kamis (15/10/2026). Luas lahan yang terbakar tercatat 93,43 hektare dan api mengancam satwa endemik serta situs prasejarah di kawasan karst.
Api pertama muncul di Kampung Bangkasakeang, Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, pada Minggu (11/10) sekitar pukul 21.00 Wita. Api kemudian menjalar ke kawasan karst Kampung Batu Napara, Kelurahan Balocci Baru.
Luas lahan terbakar bertambah setiap hari
Menurut data Balai TN Babul, lahan yang hangus mencapai 34,74 hektare pada Senin (12/10). Pada Selasa (13/10) bertambah 13,67 hektare, dan pada Rabu (14/10) bertambah 45,02 hektare. Vegetasi yang terbakar didominasi tegakan pohon jati dan rumpun bambu, dari lantai hutan sampai tajuk karst.
Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Abdul Rajab, menyebut sembilan titik api masih terpantau di dua lokasi, yakni kawasan Wae Sellue di Kelurahan Kassi dan Batu Napara di Kelurahan Balocci Baru.
Petugas berhasil memadamkan dua titik asap di tengah tebing karst secara manual dengan jet shooter. Salah satunya berjarak sekitar 500 meter dari permukiman warga.
Medan terjal dan sumber air terbatas
Rajab mengatakan pemadaman terkendala medan terjal dan lokasi yang terisolasi dari akses kendaraan. Angin kencang juga menyulitkan petugas, sementara api di puncak karst tidak bisa dijangkau.
"Kendalanya teman-teman, angin kencang biasa seperti itu. Terus yang terbakar di puncak karst kita tidak bisa jangkau," kata Rajab.
Sumber air di sekitar lokasi terbatas dan titik api jauh dari permukiman. Armada pemadam kebakaran tidak bisa menyemprotkan air langsung ke titik api. Petugas mengambil air dari mobil pemadam untuk mengisi jet shooter.
Habitat satwa terganggu
Rajab menyebut kerusakan vegetasi dan gangguan terhadap fauna sebagai dampak terparah. Habitat burung, makaka, ular, dan berbagai reptil disebutnya rusak.
Satwa endemik yang paling rentan adalah tarsius, primata kecil yang beraktivitas di rumpun bambu dan pohon jati dari dasar hingga tebing karst. Menurut Rajab, batu-batu juga berjatuhan dari tebing karst yang terbakar.
Tim di lapangan telah menemukan sejumlah satwa terdampak, antara lain burung, bunglon, dan ular. Ular itu masih hidup saat ditemukan. Rajab belum merinci dampak lingkungan secara keseluruhan karena petugas masih berfokus pada pemadaman.
Situs prasejarah terancam
Arkeolog Universitas Griffith, Australia, Basran Burhan, menyatakan kebakaran mengancam Situs Sabila di kaki bukit karst. Menurut dia, titik kebakaran berada beberapa meter di atas situs, tetapi api belum masuk ke dalamnya.
Situs Sabila menyimpan bukti kehidupan manusia purba berupa deposit permukaan tanah dengan artefak alat batu dan sisa makanan purba. Basran mengatakan dampak langsung kebakaran belum dapat dipastikan karena belum ada observasi mendalam di lapangan.
Kawasan TN Babul juga menyimpan lukisan cadas (rock art) kuno di dinding karst. Basran khawatir paparan asap dan perubahan suhu merusak lukisan tersebut.
"Lukisan ini ada yang berasal dari masa zaman es (plestosen) dengan rentang waktu antara 51 ribu sampai 17 ribu tahun," ujar Basran.
Lukisan terdekat dari area kebakaran yang telah dipertanggalkan adalah Leang Bulu Sipong 4, berupa adegan berburu berusia 48 ribu tahun. Menurut Basran, jelaga asap yang terbawa angin dapat menempel pada pigmen lukisan. Dampaknya bisa berupa pengelupasan dinding atau lapisan jelaga yang menutupi lukisan.
Sumber
Artikel ini disusun redaksi Supet dengan bantuan AI dari sumber yang dicantumkan, lalu ditinjau sebelum tayang. Menemukan kesalahan? Kabari kami.