🚐 Beli Merch
🚐
Berita Terkini

Karhutla di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung Ancam Lukisan Cadas Purba

✍️ Redaksi Supet
📅 16 Oktober 2026
📍 Sulawesi Selatan
⏱️ 2 menit baca

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan karst Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan (Sulsel), mengancam lukisan cadas peninggalan manusia purba. Lukisan itu tersimpan di sejumlah gua di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dan diperkirakan berusia lebih dari 45.000 tahun.

Peringatan tersebut disampaikan arkeolog Griffith University, Australia, Basran Burhan, pada Jumat (16/10/2026). Menurut dia, kebakaran di sekitar situs, terutama gua yang menyimpan gambar cadas, bisa menimbulkan kerusakan permanen jika api tidak segera dipadamkan.

Basran menyebut kerusakan tidak harus menunggu api menyentuh lukisan. Kebakaran mengubah suhu di sekitar gambar dan mempercepat pelapukan.

\"Tanpa ada api langsung yang menyentuh lukisan, itu bisa merusak lukisan,\" kata Basran, seperti dikutip dari Antara.

Dua ancaman: panas dan jelaga

Basran menjelaskan ada dua faktor utama. Yang pertama adalah panas. Batuan gamping tempat lukisan dibuat selama ribuan tahun berada dalam kondisi relatif stabil. Perubahan suhu drastis dapat membuat batuan memuai dan tertekan.

Tekanan itu memicu retakan mikro. Jika retakan merambat hingga lapisan pigmen, permukaan gambar bisa mengelupas. Bagian lukisan yang hilang, menurut Basran, sulit dipulihkan.

Faktor kedua adalah asap. Partikel karbon dalam asap dapat menempel di dinding gua dan membentuk lapisan jelaga hitam. Lapisan itu menutupi gambar dan menyamarkan warna asli pigmen.

\"Kita sulit melihat bentuk gambarnya seperti apa, dan sulit melihat warna asli dari pigmennya,\" ujar Basran.

Konservasi ketat dan perkembangan karhutla

Basran mengingatkan bahwa pelestarian lukisan gua selama ini dilakukan dengan aturan ketat. Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan membatasi pengunjung maksimal lima orang dalam satu gua. Pembatasan itu menjaga suhu dan kelembapan di dalam gua.

Menurut Basran, panas tubuh manusia saja diperhitungkan sebagai faktor risiko. Karena itu, kebakaran berskala besar dinilainya berpotensi menimbulkan dampak yang jauh lebih besar. Ia menyebut persoalan ini tidak hanya soal karhutla, tetapi juga perubahan iklim mikro di dalam gua.

Kawasan karst Maros-Pangkep menyimpan lukisan prasejarah berupa gambar hewan, termasuk babi Sulawesi, serta cap tangan manusia. Dalam pemberitaan Pantau.com, usia lukisan itu disebut lebih tua daripada lukisan gua Lascaux di Prancis.

Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Abdul Rajab, menyampaikan data luas lahan terbakar. Pada Senin (12/10) luasnya 34,74 hektare. Pada Kamis (15/10) angkanya naik menjadi 93,43 hektare.

Kebakaran pertama kali dilaporkan pada Minggu (11/10) malam di Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Selain mengancam situs prasejarah, kebakaran merusak vegetasi dan berpotensi mengganggu habitat satwa endemik serta keanekaragaman hayati di kawasan taman nasional.

Sumber

Artikel ini disusun redaksi Supet dengan bantuan AI dari sumber yang dicantumkan, lalu ditinjau sebelum tayang. Menemukan kesalahan? Kabari kami.