🚐 Beli Merch
🚐
#MakassarMerantau

Karena Mengejar Impian dan Cita-cita - Bini Fitriani

✍️ Tim Supet
📅 6 Mei 2025
📍 Jakarta
⏱️ 3 menit baca

Dari yang awalnya mengejar pendidikan, impian, dan cita-cita, Bini akhirnya menetap dan menjalani kehidupan yang bermakna melalui berbagai pengalaman yang berkesan. Mulai dari kerinduan yang selalu datang tanpa diundang, ketangguhan yang kian bertumbuh setelah berada jauh dari keluarga, hingga Bini mampu membangun keluarga kecil yang hangat dan nyaman.

Merantau jauh dari kota Daeng pun turut memberi arti pulang bagi Bini, yaitu dengan menghargai setiap kehangatan di sekeliling orang-orang tersayang, pulang kembali ke kota kelahiran bersama orang tua, dan berpulang ke rumah Allah sebagai tempat tujuan terakhir.

Bermula dari Pendidikan

Saya merantau untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan kesempatan pekerjaan yang lebih luas sesuai minat saya pada dunia seni dan desain.

Pada saat itu, 24 tahun yang lalu, belum ada Perguruan Tinggi yang bonafide di Makassar untuk mengakomodir kebutuhan tersebut.

Dengan dukungan penuh dari kedua orang tua dan keluarga besar, saya berangkat sendiri ke Bandung, kemudian mendaftarkan diri ke Institut Teknologi Bandung hingga pada akhirnya lulus dan meraih gelar Sarjana Seni dari tempat tersebut.

Sampai Detik Ini, Saya...

Bekerja sebagai Project Manager divisi Art & Graphic pada sebuah Biro Desain, Seni dan Arsitektur di Tangerang Selatan.

Selain itu, saya juga bekerja penuh sebagai ibu dua anak, mengantar dan menjemput mereka ke sekolah sebelum dan selepas jam kantor.

Rasanya Merantau dari Makassar Itu...

Menyenangkan!

Saya bisa mengasah kemandirian, karena semua hal, baik itu besar ataupun kecil, saya kerjakan sendiri atau hanya bersama pasangan saja, tanpa campur tangan keluarga atau orangtua.

Pastinya Ada Rindu

Pastinya ada rindu yang tak terbendung, kepada kedua orang tua, keluarga, sahabat-sahabat, pantai dan pulau-pulau indah di Makassar, dan tentu saja, makanan-makanan Makassar seperti Kapurung, Mie Lagaligo dan Bakso Kachak.

Di Masa Awal Merantau

Di masa awal merantau, saat masih kuliah dan jatuh sakit tanpa keluarga yang merawat dan menemani adalah salah satu moment berat penuh perjuangan yg tidak bisa dilupakan sebagai perantau.

Selain itu, tantangan sulit lainnya adalah ketika tidak bisa secara spontan bertemu kedua orang tua di saat rindu melanda, untuk minta dimasakkan masakan khas Mama, makan bersama sambil bercerita ngalor ngidul tanpa dihakimi.

Satu-satunya cara mengobati rasa rindu hanyalah berkomunikasi melalui WhatsApp, baik melalui personal chatmaupun WhatsApp Group, video call, ataupun hanya dengan menyimak unggahan-unggahan keluarga dan teman-teman di Makassar pada media sosial seperti Instagram.

Meski Begitu, Pengalaman Merantau Ini Membuat Saya Belajar...

Bahwa sesungguhnya, tujuan utama kehidupan itu selain untuk Tuhan, diri sendiri, pasangan dan anak-anak adalah untuk membahagiakan orang tua dan bisa berguna bagi keluarga kita yang membutuhkan perhatian, yang membutuhkan bantuan kita secara moral maupun materiil.

Dengan Merantau Saya Jadi Memahami

Dengan merantau saya jadi memahami bahwa "pulang" adalah, di mana pun anak-anak, suami dan kucing-kucingku berada.

Kamar yg nyaman, selimut yang tebal, toilet seat yg kering.

Saat ini, "pulang" adalah rumah kami yang sudah ditempati selama 10 tahun.

Pulang juga berarti kampung halaman suamiku di Surabaya, atau rumah kedua orangtua di Makassar, atau pulang ke Rumah Allah, Baitullah, Makkah al Mukarramah dan Madinah al Munawwarah, sebuah perasaan pulang yang sulit dijelaskan.

Meskipun Sampai Detik Ini Belum Terpikirkan untuk Kembali Menetap di Makassar

Meskipun sampai detik ini belum terpikirkan untuk kembali menetap di Makassar, namun saya selalu punya keinginan untuk kembali mengunjungi Makassar lagi dan lagi.

Kembali hanya untuk bermalas-malasan di rumah Mama, bertemu keluarga, sahabat-sahabat, dan makan-makan tentunya!

Teruntuk Teman-teman Perantau

Jika memiliki kesempatan, maka pergilah merantau sejauh-jauhnya.

Nenek moyang kita suku Bugis/Makassar adalah pelaut yang memiliki semangat penjelajahan.

Namun ingatlah juga tujuan perantauanmu, nilai-nilai budaya yang tertanam, dan jagalah diri secara fisik dan mental.

Be respectful to yourself and others. Di mana pun kita berada, ingat ki' siri' ta'.

Akhir kata, @binifitriani berpesan kepada semua perantau untuk pergi sejauh mungkin layaknya nenek moyang masyarakat suku Bugis/Makassar, tapi tetap mengingat tujuan utama, dan menghargai orang lain serta nilai-nilai yang dibawa dari kampung halaman, dimanapun kita semua berada...

Ingat ki' siri' ta'!

Ini adalah seri pertama dari #MakassarMerantau di @supet.id

📸

Lihat versi carousel di Instagram

Konten ini pertama kali tayang di @supet.id — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.

Lihat di Instagram →