🚐 Beli Merch
🚐
Berita Terkini

Kapten Kapal Asal Gowa Tiba di Indonesia Setelah Lima Bulan Disandera di Somalia

✍️ Redaksi Supet
📅 7 Oktober 2026
📍 Sulawesi Selatan
⏱️ 2 menit baca

Ashari Samadikun (34), kapten kapal MT Honour 25 asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tiba di Indonesia pada Selasa (6/10/2026) malam. Ia pulang setelah sekitar lima bulan disandera perompak di perairan Somalia.

Ashari tiba bersama tiga anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia lainnya. Serah terima kepada keluarga berlangsung di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten.

Keluarga menjemput ke Jakarta

Ayah Ashari, Syamsuddin Daeng Ngawing (67), berangkat ke Jakarta bersama istrinya, istri dan anak-anak Ashari, serta kerabat lain. Totalnya tujuh orang.

Syamsuddin mengatakan, Rabu (7/10/2026), ia masih berada di bandara bersama putranya. Mereka berencana terbang ke Makassar dan diperkirakan tiba sekitar pukul 17.45 Wita.

\"Alhamdulillah, Alhamdulillah sudah tiba,\" kata Syamsuddin melalui sambungan WhatsApp.

Dibebaskan lewat operasi aparat Puntland

Menurut Kompas.com yang mengutip Antara, kapal itu dibajak sejak 21 April 2026. Aparat keamanan bersenjata Puntland, wilayah semi-otonom di Somalia, menyerbu kapal tersebut pada 29 September 2026.

Duta Besar Indonesia untuk Kenya merangkap Somalia, Witjaksono Adji, menyatakan operasi itu semula disiapkan untuk membebaskan sandera di kapal lain. Informasi bahwa penyerangan dilakukan di MT Honour 25 baru diterima kemudian.

Kabar awal tentang operasi tersebut simpang siur, termasuk isu adanya WNI yang menjadi korban. Kepastian datang dari Ashari, yang mengonfirmasi seluruh ABK WNI selamat dan satu orang terluka.

Menurut Witjaksono, ABK yang terluka terkena tembakan di kaki kanan. Saat tiba di Jakarta, ia masih menjalani pemulihan dan memakai kursi roda.

Kompas.com melaporkan lima awak kapal berkewarganegaraan asing meninggal dalam baku tembak: tiga warga Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar. Angka ini belum disebut dalam sumber lain.

Cerita dari keluarga

Syamsuddin, yang ditemui di rumahnya di Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Gowa, pada Senin (5/10/2026), menuturkan kisah yang ia terima dari Ashari. Saat baku tembak terjadi, sejumlah awak berpura-pura mati. Perompak disebut gelisah karena membutuhkan orang yang bisa mengemudikan kapal.

Ashari, kata Syamsuddin, sempat berlari ke bagian depan kapal, tetapi kemudi sudah dirusak. Pasukan penyerbu kemudian naik ke kapal.

Selama berada di Bosaso, kota pesisir di utara Somalia, di bawah pengawasan militer, Ashari mengabari keluarga pada waktu-waktu tertentu. Menurut ayahnya, kondisi fisiknya sehat, tetapi ia masih trauma dan was-was.

Witjaksono juga menyatakan pemerintah mengutamakan jalur diplomasi, bukan operasi bersenjata, dalam upaya membebaskan WNI yang disandera. Pihaknya berdialog dengan pemerintah negara bagian Puntland, pemerintah pusat Somalia, serta jejaring komunitas dan lembaga swadaya masyarakat setempat.

Sumber

Artikel ini disusun redaksi Supet dengan bantuan AI dari sumber yang dicantumkan, lalu ditinjau sebelum tayang. Menemukan kesalahan? Kabari kami.