Tahun 2026 menandai empat abad kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari (1626–2026), ulama, sufi, dan pejuang asal Gowa, Sulawesi Selatan, yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1995. Jejak hidupnya membentang dari Gowa, Banten, Sri Lanka (Ceylon), hingga Afrika Selatan.
Syekh Yusuf lahir di Gowa pada 3 Juli 1626. Ia dikenal dengan gelar Tuanta Salamaka ri Gowa, yang berarti guru agung dari Gowa. Sejak muda ia menempuh perjalanan menuntut ilmu ke pusat-pusat keilmuan Islam, termasuk Makkah dan kawasan Timur Tengah.
Tumbuh di Pusat Maritim Gowa
Sejarawan Sulawesi Selatan, Mukhlis Paeni, menyebut Kesultanan Gowa pada masa itu sebagai pusat interaksi maritim dan intelektual.
“Syekh Yusuf tidak lahir dari ruang hampa. Ia ditempa dalam ekosistem maritim Gowa yang terbuka, di mana mobilitas gagasan dan perdagangan berjalan dinamis,” kata Mukhlis Paeni.
Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara (1994) mencatat bahwa ulama Nusantara abad ke-17 terhubung kuat dengan Haramain, yakni Makkah dan Madinah.
Filolog Prof. Nabilah Lubis dari UIN Jakarta dan Prof. Nurhayati Rahman dari Universitas Hasanuddin (Unhas) meneliti manuskrip tasawuf Syekh Yusuf yang tersimpan di sejumlah perpustakaan di dalam dan luar negeri. Menurut Nabilah, naskah-naskah itu memperlihatkan perpaduan fikih mazhab Syafi’i dengan tasawuf sunni yang menekankan penyucian jiwa sekaligus tanggung jawab sosial.
Prof. Ahmad M. Sewang dari UIN Alauddin Makassar menyebut tasawuf Syekh Yusuf bercirikan moderasi dan tidak lepas dari realitas sosial zamannya. Ciri itu, katanya, membuat ajarannya diterima lintas ras dan budaya di tempat pengasingan.
Banten, Ceylon, dan Tanjung Harapan
Di Banten, Syekh Yusuf mendampingi Sultan Ageng Tirtayasa menentang VOC. Setelah benteng Banten jatuh akibat siasat divide et impera, ia ditangkap dan diasingkan.
VOC membuangnya ke Ceylon pada 1684. Pada 1693 ia dipindahkan ke Tanjung Harapan (Cape Town) karena kehadirannya di Ceylon masih memicu perlawanan jemaah Asia. Pembuangan itu kemudian menjadi cikal bakal komunitas Muslim di Afrika Selatan.
Makamnya di Faure, Cape Town, kini menjadi penanda yang menghubungkan masyarakat Gowa, Banten, dan Afrika Selatan.
Lima Keteladanan
Berdasarkan catatan sejarah dan refleksi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, ada lima keteladanan utama Syekh Yusuf:
- keberanian melawan ketidakadilan dan penindasan;
- semangat menuntut ilmu untuk membangun peradaban;
- dakwah penuh toleransi yang menekankan kasih sayang, persaudaraan, dan penghormatan antarmanusia;
- keteguhan iman selama pengasingan jauh dari tanah air;
- warisan pemikiran yang dihormati di Indonesia dan Afrika Selatan.
Warisan Syekh Yusuf dirawat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, tokoh masyarakat, pengelola kompleks Makam Syekh Yusuf di Lakiung, Kabupaten Gowa, serta kerabat Kesultanan Gowa di Istana Balla Lompoa.
Pengurus pengelola makam setempat mengatakan, “Nilai paling mendasar yang perlu diteladani generasi muda hari ini adalah keteguhan prinsip moral di tengah badai krisis.”
Sejarawan Dr. H. M. Fahmi Al-Kadir menyatakan nilai keteladanan Syekh Yusuf perlu terus dihidupkan untuk memperkokoh kebangsaan dan merawat kebinekaan.
Sumber
Artikel ini disusun redaksi Supet dengan bantuan AI dari sumber yang dicantumkan, lalu ditinjau sebelum tayang. Menemukan kesalahan? Kabari kami.