🚐 Beli Merch
🚐
Berita Terkini

Dinkes Makassar Catat 7.940 Kasus ISPA hingga 14 Oktober saat Kabut Asap

✍️ Redaksi Supet
📅 15 Oktober 2026
📍 Sulawesi Selatan
⏱️ 2 menit baca

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), mencatat 7.940 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Oktober 2026. Angka itu kumulatif hingga 14 Oktober, saat kualitas udara di Makassar memburuk akibat kabut asap.

Data tersebut disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Makassar, dr Andi Mariani, kepada wartawan pada Kamis (15/10/2026).

Pemantauan harian di puskesmas

Menurut Mariani, ISPA termasuk 10 penyakit terbanyak yang dilaporkan puskesmas. Dalam tiga bulan terakhir, rata-rata kasusnya sekitar 15.000 per bulan.

Ia menjelaskan, jumlah 7.940 kasus di pertengahan bulan bila digandakan hingga akhir bulan menjadi sedikit di atas 15.000. Angka itu, kata dia, masih sesuai tren biasa apabila tidak ada kenaikan akibat udara tidak sehat.

Sejak udara dinyatakan tidak sehat, Dinkes memantau kasus ISPA setiap hari di seluruh puskesmas untuk mendeteksi ada tidaknya lonjakan.

"Kalau misalnya pun ada peningkatan, nanti kita lihat apakah ini dampak langsung dari udara akibat kabut atau lain-lain," ujar Mariani.

Mariani menyatakan Dinkes belum dapat langsung menyimpulkan kenaikan kasus sebagai dampak kabut asap. Menurut dia, ISPA bisa dipicu banyak faktor, meski udara tidak sehat berpotensi memperburuk kondisi kesehatan. Paparan udara tercemar juga dikhawatirkan memicu penyakit lain pada orang dengan penyakit penyerta.

Kelompok yang lebih sensitif terhadap udara tidak sehat adalah anak-anak, ibu hamil, dan lansia.

Anjuran masker dan data BMKG

Dinkes menyarankan warga memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan. Masker N95 disebut mampu menahan partikel berukuran 2,5 mikron (PM2,5). Karena harganya relatif mahal, Dinkes untuk sementara menyarankan masker medis.

Mariani mengatakan masker medis tetap lebih baik daripada tidak bermasker, sebab sebagian partikel masih tersaring.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kualitas udara Makassar masih berpotensi kurang sehat. Penyebabnya polusi partikulat dan kiriman asap dari daerah lain.

Pengamatan di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Kabupaten Maros, mencatat konsentrasi PM2,5 sebesar 76,5 pada Kamis (15/10) pukul 08.00 Wita. Angka itu turun dibandingkan beberapa jam sebelumnya dan hari sebelumnya. Pada Rabu (14/10), konsentrasi PM2,5 sempat berada di atas 150.

Ketua Tim Kerja Klimatologi BMKG Wilayah IV Makassar, Muflihah, mengatakan kondisi udara fluktuatif sehingga nilainya tidak bisa dipastikan. Ia menyampaikannya seusai coffee morning yang digelar Kominfo Makassar.

Menurut Muflihah, kondisi udara dalam beberapa hari ke depan bergantung pada polutan asap yang terpantau satelit. Jika asap kiriman dari daerah lain masih ada, kualitas udara diperkirakan tidak jauh berbeda.

Sumber

Artikel ini disusun redaksi Supet dengan bantuan AI dari sumber yang dicantumkan, lalu ditinjau sebelum tayang. Menemukan kesalahan? Kabari kami.