Edwin Darma Putra, asal Surabaya, adalah seorang MUA. Makassar bukan kota pertama yang dia kenal, tapi jadi kota yang paling lama ia tinggali.
14 Tahun Mengejar Mimpi di Kota Daeng
EDP, atau Edwin Darma Putra Tanoemihardjo, meninggalkan Surabaya pada 7 Januari 2011 untuk mencoba peruntungan di Makassar.
"Katanya, kalau mau tahu dunia luar, jangan cuma dengar cerita, tapi datangi dan nikmati pengalamannya!".
Kini, EDP telah menetap di rumah impiannya bersama empat anjing kesayangannya.
Blend with The Local!
14 tahun lalu, Makassar belum semaju ini. Pete-pete masih di mana-mana, brand ibukota belum banyak di mall.
Yang paling culture shock itu nada bicara orang Makassar yang bagi saya, orang Jawa, terdengar seperti ngegas.
Adaptasi Rasa dan Keunikan yang Bikin Nagih!
6 bulan pertama kaget dengan cita rasa makanan Makassar yang asin, asam, pedas, dan selalu pakai jeruk nipis! Tapi, cara terbaik adaptasi ya me-lokal. Temukan apa yang bisa membuatmu betah versi cara pandangmu.
Sudah cinta makanannya, apalagi Mie Pangsit dan Coto Deng Tayang! Lalu lintasnya walau kadang macet tapi dekat ke mana-mana. Pantai Makassar mungkin bukan yang terbaik di Indonesia, tapi buat anak Surabaya, pantai di Makassar termasuk kategori bagus banget!
Kenapa Makassar? Kenapa Enggak!
Kadang lebih baik jadi ikan arwana di kolam kecil daripada ikan paus di lautan luas.
Klo ditanya kenapa Makassar? Pertanyaannya harus dibalik, kenapa nggak? Karena Makassar itu kota keras tapi ngangenin!
"Di Makassar mudah menjalin relasi, bagus buat pekerjaan saya.
Banyak klien jadi teman, banyak teman jadi saudara".
14 tahun mengejar mimpi, membaur, lalu menemukan rumah. Karena kadang, tempat asing bisa berubah jadi bagian dari diri kita.
Pertama tayang di Instagram @kenapa.makassar. Teks dirapikan untuk web dengan bantuan AI dan ditinjau sebelum tayang.
Lihat versi carousel di Instagram
Konten ini pertama kali tayang di @kenapa.makassar — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.
Lihat di Instagram →