🚐 Beli Merch
🚐
Lokal Vibes

Daeng Ruru & Daeng Tulolo: Dua Pangeran Makassar yang Menjadi Perwira di Istana Raja Matahari Louis XIV

✍️ Tim Supet
📅 24 Maret 2026
⏱️ 2 menit baca
Foto: Ilustrasi oleh Grok Imagine (xAI)

Makassar – Setelah ayah mereka, Daeng Mangalle, gugur dalam pertempuran politik di Ayutthaya tahun 1686, dua putranya yang masih remaja menjadi tawanan perang. Mereka adalah Daeng Ruru (usia sekitar 15 tahun) dan Daeng Tulolo (usia sekitar 16 tahun). Nasib keduanya kemudian berubah drastis ketika dibawa ke Prancis atas perintah langsung Raja Louis XIV.

Kedua pemuda Makassar tiba di pelabuhan Brest, Prancis, pada 15 Agustus 1687 setelah pelayaran panjang yang melelahkan. Raja Louis XIV — yang dijuluki “Raja Matahari” — merasa bertanggung jawab atas nasib mereka sebagai putra seorang pangeran yang tewas dalam konflik politik yang melibatkan sekutu Prancis di Siam.

Alih-alih diperlakukan sebagai tawanan biasa, keduanya justru mendapat perlindungan dan kehormatan layaknya bangsawan muda. Mereka langsung dibaptis menjadi Katolik dan diberi nama Prancis:

  • Daeng Ruru menjadi Louis Pierre de Macassart (atau Louis Pierre Makassar)
  • Daeng Tulolo menjadi Louis Dauphin de Macassart

Raja Louis XIV membiayai seluruh kehidupan dan pendidikan mereka. Keduanya dimasukkan ke sekolah militer elit Angkatan Laut Prancis, belajar bahasa Prancis, etika istana, strategi perang, dan navigasi. Mereka bahkan sempat tinggal di istana Versailles dan menjadi bagian dari lingkaran bangsawan Prancis.

Louis Pierre Makassar (Daeng Ruru) menunjukkan bakat militer yang menonjol. Ia bertugas di berbagai kapal perang Prancis, termasuk kapal Jason yang memiliki 54 meriam. Ia ikut dalam beberapa ekspedisi laut dan pertempuran melawan armada Belanda dan Inggris. Kariernya cukup cemerlang hingga ia meninggal pada 19 Mei 1708 dalam sebuah duel kehormatan di usia sekitar 37 tahun. Ia dimakamkan di Prancis dengan penghormatan militer.

Sementara itu, adiknya Louis Dauphin Makassar (Daeng Tulolo) juga meniti karier di angkatan laut Prancis. Setelah kematian kakaknya, ia sempat kembali ke Makassar untuk mengurus warisan keluarga, meski jejaknya di Prancis tetap tercatat sebagai salah satu perwira asal Timur Jauh yang dihormati.

Kisah kedua pangeran Makassar ini menjadi bukti nyata betapa jauh jangkauan politik dan pengaruh orang Makassar di abad ke-17. Dari pengasingan karena menolak VOC di tanah air, hingga menjadi perwira di salah satu kerajaan terkuat di Eropa saat itu.

Hingga kini, nama “de Macassart” masih muncul dalam arsip-arsip militer Prancis, meski di Makassar sendiri kisah ini jarang diketahui generasi muda.

Sumber:


📸

Lihat versi carousel di Instagram

Konten ini pertama kali tayang di @supet.id — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.

Lihat di Instagram →