🚐 Beli Merch
🚐
Lokal Vibes

Daeng Mangalle: Pangeran Makassar yang Tolak Tunduk ke VOC, Lalu Gugur Heroik Lawan Ribuan Musuh di Tanah Siam

✍️ Tim Supet
📅 24 Maret 2026
📍 Makassar
⏱️ 2 menit baca
Foto: Ilustrasi digital dibuat dengan Grok Imagine oleh xAI

Makassar – Ketika Kerajaan Gowa-Tallo kalah dalam Perang Makassar tahun 1669, banyak bangsawan menerima kekalahan dan tunduk pada Perjanjian Bongaya dengan VOC Belanda. Namun, Daeng Mangalle (juga dikenal sebagai I Yandulu Daeng Mangalle), seorang pangeran Gowa yang merupakan kerabat dekat Sultan Hasanuddin, memilih jalan berbeda.

Ia menolak keras perjanjian yang dianggapnya merendahkan martabat kerajaannya. Bersama sekitar 250 pengikut (pria, wanita, dan anak-anak), Daeng Mangalle meninggalkan Makassar. Mereka singgah sebentar di Banten, tetapi ketika Banten mulai mendekatkan diri dengan VOC, rombongan ini melanjutkan pelarian jauh ke timur.

Pada tahun 1664, mereka tiba di Ayutthaya, ibu kota Kerajaan Siam (Thailand sekarang). Raja Narai menyambut mereka dengan baik dan memberi lahan pemukiman di pinggir sungai. Selama lebih dari 20 tahun, komunitas Makassar hidup damai. Daeng Mangalle bahkan dipercaya menduduki posisi penting di istana sebagai pemimpin komunitas dan penasihat.

Penyebab Konflik Politik yang Meledak

Pada pertengahan 1680-an, pengaruh seorang menteri asing bernama Constantine Phaulkon semakin kuat di istana Siam. Banyak bangsawan dan kelompok istana merasa kekuasaan raja mulai dikendalikan oleh orang luar ini. Sejumlah pangeran dan pemimpin komunitas asing, termasuk Daeng Mangalle, dituduh terlibat dalam konspirasi untuk menggulingkan Raja Narai dan menggantinya dengan saudaranya yang lebih mudah dikendalikan.

Daeng Mangalle dituduh ikut merencanakan pemberontakan itu. Raja Narai memerintahkan ia untuk memohon ampun dan membongkar nama-nama rekan-rekannya yang terlibat. Namun, Daeng Mangalle menolak dengan tegas.

Baginya, mengakui kesalahan yang tidak ia lakukan dan menjadi pengadu sama saja merendahkan siri’ (kehormatan) sebagai seorang pangeran Makassar. Penolakan ini dianggap sebagai pembangkangan langsung terhadap raja.

Upaya negosiasi gagal total. Pada 23 September 1686, Raja Narai memerintahkan penyerangan besar-besaran terhadap pemukiman Makassar di Ayutthaya dan Bangkok.

Pertempuran yang Sangat Timpang

Kekuatan kedua belah pihak sangat tidak seimbang:

  • Pasukan Makassar: Hanya sekitar 150–250 orang pejuang inti dengan senjata tradisional (tombak dan badik).
  • Pasukan musuh: Ribuan tentara Siam ditambah pasukan Eropa (Prancis dan Inggris), lengkap dengan senjata api, kapal perang, dan galai.


Meski kalah jumlah puluhan kali lipat, perlawanan orang Makassar sangat sengit. Catatan sejarah mencatat:

  • Di Bangkok: 17 orang Makassar gugur, tetapi mereka berhasil menewaskan 366 orang lawan.
  • Di Ayutthaya: Hampir seluruh pejuang Makassar tewas atau tertangkap, sementara pihak lawan kehilangan 17 orang Eropa dan diperkirakan hingga 1.000 tentara Siam.

Daeng Mangalle bertempur hingga akhir hayat. Ia terluka lima kali tusukan tombak, tapi sebelum gugur ia sempat membunuh seorang menteri Siam dan seorang perwira Eropa.

Akhir yang Penuh Kehormatan

Daeng Mangalle gugur sebagai pahlawan yang mempertahankan harga diri. Dua putranya yang masih remaja, Daeng Ruru dan Daeng Tulolo, menjadi tawanan perang dan kemudian dibawa ke Prancis atas perintah Raja Louis XIV.

Hingga kini, kawasan Makkasan di Bangkok masih menyimpan nama yang diyakini berasal dari “Makassar” — saksi bisu perjuangan politik dan kehormatan leluhur kita di tanah asing.

Kisah Daeng Mangalle mengingatkan bahwa semangat pantang menyerah demi siri’ sudah mengalir dalam darah orang Makassar sejak ratusan tahun lalu, bahkan ketika harus menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar.

Sumber:

📸

Lihat versi carousel di Instagram

Konten ini pertama kali tayang di @supet.id — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.

Lihat di Instagram →