🚐 Beli Merch
🚐
#MakassarMerantau

Bertumpu pada Diri Sendiri: Andi Geby Fonda, 5 Tahun Merantau di Berlin, Jerman

✍️ Redaksi Supet
📅 6 September 2026
⏱️ 6 menit baca
Foto: @makassarmerantau
Pergilah, tapi tetap jaga value yang kamu bawa dari Makassar.

Itulah pesan dari Andi Geby Fonda, yang telah melangkah jauh dari Makassar dan kini sudah 5 tahun menjalani kehidupan di Berlin, Jerman.

Merantau membuat Geby bertemu dengan banyak hal yang sebelumnya mungkin tidak pernah ia temui di Makassar. Mulai dari lingkungan baru, orang-orang dengan latar belakang yang beragam, hingga kehidupan yang mengharuskannya untuk melakukan banyak hal sendiri.

Jauh dari keluarga dan orang-orang terdekat juga membuat Geby belajar menghadapi rasa sepi, melewati masa-masa sulit, dan mengambil keputusan tanpa selalu punya seseorang untuk mengingatkan. Tapi justru dari sanalah Geby belajar untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Bahwa hidup jauh dari rumah memang memberi kebebasan yang luas, tapi juga menuntut kita untuk tetap tahu siapa diri kita dan value apa yang kita bawa.

Jalan Hidup di Tempat Lain

Meski berdarah asli Sulawesi Selatan, saya tidak pernah benar-benar tumbuh di Makassar. Saya baru tinggal di Makassar itu waktu kuliah, tepatnya tahun 2011–2017. Tapi, berkat orang tua saya yang keduanya asli Sulawesi Selatan tetap membuat saya dekat dengan adat dan kebiasaan (dan tentu makanan) Makassar. Setiap tahun saat Lebaran pun kami pasti pulang ke Makassar.

Enam tahun itu cukup membentuk banyak hal dalam hidup saya. Di Makassar saya belajar banyak hal, bukan cuma soal kuliah, tapi juga tentang pertemanan, kehidupan, dan pelan-pelan mengenal diri sendiri.

Tapi ada hal yang makin terasa seiring waktu. Walaupun Makassar terasa akrab dan hangat, saya selalu merasa seperti sedang singgah, bukan benar-benar menetap.

Bukan karena Makassar kurang apa-apa. Kota itu punya tempat tersendiri di hati saya. Hanya saja, setelah enam tahun tinggal di sana, saya sadar bahwa jalan hidup saya sepertinya akan membawa saya ke tempat lain.

Jadi setelah lulus, saya memutuskan untuk kembali merantau, jauh, dan akhirnya lebih jauh lagi.

Kehidupan yang Sekarang

Kesibukan saya sekarang sebagai dokter, menjalani program residensi bagian neurologi di salah satu rumah sakit di Jerman.

Selama 3 tahun belakangan setiap hari kegiatan saya sebagian besar hanya di rumah sakit, selebihnya sibuk making a home away from home saja sih, dan berusaha bikin diri sendiri betah di negara orang.

Mengenal Diri Lebih Dalam di Perantauan

Merantau itu menantang tapi juga menyenangkan. Saya belajar bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru, yang sepenuhnya berbeda dari Makassar dalam segala aspek. Saya bertemu banyak orang baru dari segala penjuru dunia. Selain belajar mengenai kedokteran di rumah sakit, saya juga banyak belajar berkehidupan sosial, mengenali karakter, kepribadian, cara pandang seseorang yang memiliki latar belakang adat, budaya, letak geografis kampung asal, dan spiritual yang sangat berbeda dari saya.

Saya pun belajar banyak mengenai etos kerja, terutama bagaimana di sini seseorang akan sangat dihargai jika mereka mengutarakan pikiran mereka dibanding hanya diam dan berkata “iya”, dan masih banyak lagi pengalaman yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya terus menetap di Makassar.

Pengalaman merantau ini membuka begitu banyak perspektif baru untuk pada akhirnya membuat saya mengenali diri saya sendiri lebih dalam dan mungkin terkadang memang perlu pergi jauh untuk mengenal diri sendiri lebih dekat.

Ruang Kosong Itu...

Tentu mengenal diri sendiri, tapi merantau juga berarti menghadapi tantangan seperti missing out on people’s milestones.

Saya benar-benar merasakan FOMO selama di sini. Perasaan kosong ketika saya tidak bisa ikut hadir dalam perayaan orang-orang terdekat di kampung halaman seperti ulang tahun, pernikahan, lahiran, kelulusan, reuni, bukber, dan lain sebagainya. Baik itu perayaan suka cita maupun peringatan duka cita, semuanya hanya bisa dirayakan dan disaksikan secara online.

Dan vice versa, mereka pun yang berada di kampung halaman hanya bisa menyaksikan milestones yang saya lalui secara online.

Di Balik Sepi dan Rindu

Setiap ruang kosong itu terkadang membuat saya merasa sangat kesepian. Ketika bersama orang-orang terdekat, rasanya semua hal bisa dilewati dengan mudah. Saat susah bisa disemangati dan saat senang bisa berbagi.

Meskipun demikian, justru rasa sepi dan rindu itu yang paling banyak mengubah cara pandang saya sejak merantau. Saya belajar untuk menghadapi dan melakukan semuanya sendiri secara mandiri.

Semua hal yang dulunya mudah dilakukan dengan bantuan orang terdekat di kampung halaman, di sini harus dilakukan sendiri. Saat sedang sakit maupun kesusahan, semua harus diusahakan dan diselesaikan sendiri.

Perjalanan ini juga mengajarkan saya bahwa hidup sendiri, jauh dari keluarga dan teman memberikan kebebasan dan kesempatan yang sangat luas untuk mengeksplor dunia dan diri sendiri.

Namun hal ini juga bisa menjadi bumerang, bahwa saya harus pintar menjaga diri tanpa ada yang mengawasi untuk mengingatkan atau mengkritik pilihan yang saya ambil.

There’s nobody who keeps me grounded.

Walaupun harus beradaptasi dan menyesuaikan diri di tanah rantau, jika tidak pintar menempatkan diri, akan sangat gampang terbawa arus mengikuti kebiasaan yang tidak sesuai dengan value yang saya bawa dari kampung halaman. Mungkin kalau kata orang tua zaman dulu, “jagai siri’nu!”.

Makassar dan Magnet Rindunya

Yang paling saya rindukan dari Makassar adalah suasana Lebaran. Makassar akan selalu menjadi tempat pulang yang paling hangat dan familiar, yang tidak akan bisa terganti sejauh apapun saya pergi.

Kalau mau pulang ya lumayan susah dilakukan, jadi saya selalu menyempatkan untuk ngobrol dengan keluarga dan teman-teman melalui chat, telepon, dan video call.

Merantau di zaman ini sudah sangat terbantu dengan teknologi.

Selain suasana Lebaran dan keluarga-kerabat, tentu ada makanan yang terus mengorek lidah perantau ini.

Saya akan terdengar rakus, atau bahasa gaulnya “balala”, kalau saya mention semuanya di sini. Walaupun banyak restoran Indonesia di seluruh penjuru Jerman, tidak ada yang menyajikan makanan Sulawesi!

Saya paling kangen tentu saja sama makanan-makanan Makassar favorit saya yaitu Pallubasa. Kalau di tempat kedua ada Coto, diikuti Es Pisang Ijo, Songkolo, Mie Kering, Konro, Sop Sodara, Bubur Bassang, Kapurung, Gogos. Man, the list will go on and on......

Sepertinya makanan memang akan selalu menjadi salah satu tujuan utama pulang ke Makassar, the food really lightens up your soul!

Ujung Perjalanan Merantau adalah?

Pulang adalah ujung perjalanan dari rindu yang panjang. Bukan hanya tentang tempat, melainkan tentang rasa. Rasa lelah yang akhirnya sampai pada tujuannya. Rasa tenang, nyaman, dan ringan saat peluh yang berat disambut dengan peluk yang hangat. Suara berisik yang menenangkan, malam dingin yang menghangatkan, tempat kecil yang melegakan.

Buat saya “pulang” sudah menjadi hal paling berharga yang tidak bisa saya bahasakan dengan kata-kata.

Meski sejauh ini belum ada rencana untuk kembali menetap di Makassar, jika ada kesempatan dan peluang untuk pulang sambil membawa perubahan positif atau bisa berbagi manfaat lagi dengan Makassar, tentu saja akan saya lakukan dengan senang hati.

Utamanya karena saya berkecimpung di bidang kesehatan, saya sedikit banyak bisa membandingkan sistem kesehatan di sini dengan Makassar khususnya dan Indonesia secara umum.

Saya ingin sekali membangun rumah sakit khusus seperti otak, jantung atau rehabilitasi yang menggunakan sistem seperti di Jerman. Jika belum bisa menerapkan sistemnya dalam skala nasional, mungkin mulai dari yang kecil dulu, yaitu di rumah sakit khusus tersebut.

Dari Diriku untuk Kamu...

Jika ingin merantau, bulatkan tekad itu karena saya selalu percaya dengan “akan ada jalan jika ada kemauan.”

Merantau tidak pernah menjadi perjalanan yang mudah, jalani dengan ikhlas apapun cobaannya, jalani dengan niat dan tujuan yang baik. Walaupun terdengar klise, tapi semua benar-benar akan indah pada waktunya. Yang terpenting juga, tinggalkanlah semua kebiasaan buruk saat menginjak tanah rantau.

Kamu adalah tamu jadi belajar untuk menghormati dan beradaptasi, jangan berharap tempat itu yang berubah untukmu, melainkan kamu lah yang perlu tumbuh di dalamnya.

Pergilah tapi tetap jaga value yang kamu bawa dari Makassar~ — Andi Geby Fonda

Pertama tayang sebagai carousel di Instagram @makassarmerantau. Teks dirapikan untuk web dengan bantuan AI dan ditinjau sebelum tayang.

📸

Lihat versi carousel di Instagram

Konten ini pertama kali tayang di @makassarmerantau — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.

Lihat di Instagram →