🚐 Beli Merch
🚐
#MakassarMerantau

Azizah Irfan Arief: Terus Melangkah dan Tak Surut Kembali

✍️ Redaksi Supet
📅 18 Februari 2026
⏱️ 6 menit baca
Foto: @supet.id
“Kualleangi tallanga na toalia” — lebih baik tenggelam daripada surut kembali.

Dia adalah Azizah Irfan Arief, yang kerap disapa Zi, seorang Live Sound Engineer yang sudah 27 tahun menjalani hidup sebagai perantau di Jakarta. Perjalanannya dimulai sejak kecil saat mengikuti orang tua pindah dari Makassar, lalu kembali lagi di masa remaja, hingga akhirnya memilih sendiri jalannya untuk merantau dan membangun karier di dunia musik yang membawanya berkeliling Indonesia bahkan ke berbagai belahan dunia.

Bagi Zi, lebih baik tenggelam daripada surut kembali berarti, apa pun rintangan yang dihadapi dalam perjalanan merantau, lebih baik gagal daripada menyerah dan kembali atau bahkan tidak mencoba sama sekali.

Awal perjalanan merantau

Bisa dibilang, perjalananku merantau itu punya cerita yang cukup panjang.

Awalnya meninggalkan Makassar untuk pindah ke Jakarta pada tahun 1998 atau 1999 kalau tidak salah ingat. Exact year udah sulit ingetnya karena sejak balita pun sudah sering pulang-pergi Makassar-Jakarta. Ya jadi ikut orang tua sekeluarga pindah saat saya masih kelas 1 SD. Saya meninggalkan SD Nusantara, dan melanjutkan pendidikan di SD Islam Al-Azhar Syifa Budi Kemang Jakarta.

Lalu di tahun 2004 Ibu saya kembali ke Makassar, dan saya pun kembali ke Makassar setelah menyelesaikan pendidikan SMP, tepatnya pada tahun 2007. Sedangkan Bapak saya juga menyusul di tahun yang sama. Titik itu pula saya menjalani pendidikan SMA di SMA Negeri 2 Makassar.

Akhirnya menemukan jalan merantau

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, saya pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan tinggal bersama kakek dan nenek. Bagi saya, itulah jalan perantauan saya yang sesungguhnya, karena saya meninggalkan rumah dengan keputusan saya sendiri, tanpa campur tangan kedua orang tua...

Kehidupan perantauan saat ini

Sejak 15 tahun terakhir, saya menekuni bidang pekerjaan sebagai Live Sound Engineer untuk beberapa musisi. Pekerjaan ini sendiri bisa membawa saya untuk berkeliling Indonesia, dan bahkan ke bagian dunia yang lain.

Rasanya melakukan banyak hal di luar Makassar terasa biasa saja sebenarnya, mungkin karena sejak kecil sudah sering berpindah-pindah dan memang banyak keluarga dari kedua belah pihak orang tua yang berdomisili di Jakarta.

Meski begitu, ya pasti ada juga hal-hal yang dirindukan...

Berawal di bulan Mei tahun 2011, saya mulai bekerja di sebuah rental sound system di daerah Utan Kayu, Jakarta Timur dan berpamitan di akhir tahun 2018.

Lalu tahun 2013 adalah tahun kali pertama saya di-hired oleh sebuah band untuk menjadi Sound Engineer mereka, yaitu SuperGlad, lalu berlanjut ke Andra & The BackBone, DeadSquad, The Upstairs, J-Rocks, Musikimia, Dul Jaelani, Voice of Baceprot, Manja, God Bless dan Isyana Sarasvati.

Kalau dikategorikan lagi dengan judul "pernah" atau sebagai engineer pengganti di saat engineer utama mereka tidak bisa, saya juga pernah menangani Ahmad Dhani Electric Band (ADEB), Dewa 19, Dewa Budjana, Drive, Nicky Astria, Once Mekel, The Bakuucakar, Tohpati, Triad, Rifka Rachman Collaboration, Vidi, Rizky Febian, Afgan dan lain-lain.

Dan seiring berjalannya waktu, semoga pintu baru selalu terbuka, yang sekali menjadi berkali-kali.

Tentang rindu

Yang paling saya rindukan dari Makassar adalah jalan-jalan dengan sepeda motor di sore hari untuk melihat sunset. Saat berdomisili di Makassar, hal itu terasa biasa saja karena ya saya bisa melakukannya setiap hari, tapi setelah meninggalkan Makassar, saya baru tersadar bahwa hal tersebut adalah sebuah privilege bagi orang-orang yang berdomisili di Makassar.

Kemudian sudah pasti makanan-makanan ringan khas Makassar seperti bakara dan jalangkote yang harganya cuma Rp1.000 saat itu, dan sudah ditemani dengan lombok cair khasnya yang ditaruh di botol air mineral bekas yang tutupnya berlubang. Lalu ada juga kroket kentang isi daging dan bakso gerobakan pastinya.

Yaa not the fancy one but memorable!

Sedangkan untuk makanan berat seperti Coto Makassar, mie kering, nasi goreng merah atau sop saudara, saya sudah menemukan “penawar rindu”-nya di Jakarta, dan memang sudah ada yang mirip rasanya. Mungkin karena yang berjualan juga asli Makassar.

Selain sunset dan makanannya, rindu juga dengan kehadiran keluarga. Rindu masakan ibu, rindu bertukar pikiran dengan bapak dan rindu percakapan yang tidak bertema dengan kakak atau adik.

It’s like when you back to your place, wherever you stay, but there’s no one to share how great your day was or there’s no one to cheer you up when you’re down, in person.

I think that’s a lot, but the show must go on.

Thanks to technology,

jadi saya bisa video call dengan orang-orang terdekat dan keep in touch dengan teman-teman melalui WhatsApp atau story/feed di Instagram.

Selain itu, kalau saya ada event di Makassar dan itinerary-nya senggang, saya menyempatkan untuk bertemu walau hanya sebentar.

Merantau itu berjuang?

Pasti lah ada momen-momen dan interaksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang saat di perantauan, tapi justru itu kesempatan untuk memperluas cara berpikir, meningkatkan rasa toleransi dan membuka perspektif baru.

Lalu, merantau juga berarti terpaksa mengurus segalanya sendiri, membuat saya lebih disiplin, bertanggung jawab dan tentunya karena sadar akan sulitnya mencari uang, membuat saya lebih bijak dalam mengatur keuangan.

Jadi kalau ditanya apa yang paling mengubah cara pandang ketika merantau, jawabannya yang pertama, momen menyelesaikan masalah hidup sendirian bagi saya menjadi perjuangan mental dan yang kedua, momen sakit sendirian tanpa keluarga.

Terpikir tentang pulang?

Hmm, pulang bagi saya tak hanya berarti berkunjung ke rumah orang tua yang berdomisili di Makassar, tapi juga ketika saya bisa kembali ke suatu tempat di mana saya bisa menggunakan slipper, wara-wiri hanya menggunakan kaos dan celana rumah, beristirahat dengan nyaman, tidur dengan nyenyak, make my own coffee and me time.

Selain itu sejak balita saya sudah sering meninggalkan rumah, orang tua dan tinggal berpindah tempat karena “diculik” oleh kakek dan nenek dari pihak bapak, mulai dari Medan, Manado, Bandung, Palembang dan Jakarta sebagai homebase.

Bahkan ketika saya sudah menjalani Pendidikan Anak Usia Dini di TK Islam Athirah, saya “dipulangkan” hanya pada saat kegiatan belajar mengajar dimulai dan kembali “diculik” saat libur tiba.

“Penculikan” tersebut mulai berkurang saat saya memasuki Sekolah Dasar dan pindah ke Jakarta. Saat remaja, saya mulai merintis karier di Jakarta, dan ketika itu, usia saya baru 19 tahun dan berani memutuskan untuk meninggalkan rumah, sehingga saya dapat fokus menekuni pekerjaan yang saat itu baru saja saya geluti.

Lalu, salah satu hal yang saya tuai dari “fokus berkarier” dan sampai saat ini masih terjadi adalah “selalu berpindah tempat”,

it’s always different event, different people, different venue, different city or even country.

Itulah mengapa bagi saya yang bisa dibilang nomaden ini, arti kata “pulang” bermakna lebih dari satu definisi.

Kembali ke Makassar?

Sejauh ini, saya belum pernah terpikirkan untuk kembali menetap di Makassar, tapi mungkin saya akan tetap kembali hanya untuk berlibur atau mengunjungi orang tua, keluarga, dan bertemu dengan segerombolan teman lama yang juga sudah seperti keluarga.

Untuk Makassar dan, kamu?

Yang bisa saya kontribusikan untuk Makassar ketika suatu saat saya kembali hanyalah networking dan skill saya pribadi, karena hingga kini pun, saya adalah seorang perantau yang bisa dibilang masih berjuang.

Dan untuk kamu yang akan merantau,

selamat keluar dari zona nyaman!

Semoga kamu bisa menjadi pribadi yang lebih tangguh, mandiri dan dewasa. Semoga perantauan juga bisa menjadi batu loncatan menuju impian dan harapanmu.

“Kualleangi tallanga na toalia” — lebih baik tenggelam daripada surut kembali. Jangan memang ki’ mundur dari perjuangan ta’ ces, lebih baik gagal daripada tidak pernah mencoba.

Meskipun seringkali perasaan rindu akan rumah dan kota asal kembali ke permukaan, terutama memori-memori sederhana akan keindahan kota Makassar dan makanan-makanannya, atau bahkan momen-momen hangat bersama keluarga, Zi terus maju melangkah mengejar makna yang ia cari. Perasaan rindu itu kemudian menjadi kekuatan baginya.

Pertama tayang di Instagram @makassarmerantau. Teks dirapikan untuk web dengan bantuan AI dan ditinjau sebelum tayang.

📸

Lihat versi carousel di Instagram

Konten ini pertama kali tayang di @makassarmerantau — follow untuk konten lokal Makassar setiap minggu.

Lihat di Instagram →